Panglima Laot (pemangku adat laut) Aceh Barat Amirudin di Meulaboh, Jum'at mengatakan selama ini tangkapan nelayan boad kecil wilayah setempat menurun drastis akibat dirambah oleh nelayan "nakal" yang menguras ikan-ikan kecil.
"Kami nelayan Aceh sangat mendukung, karena alat tangkap pukat tarek (tarik) di Aceh Barat sudah sangat meresahkan, habis semua biota laut sementara boad-boad kecil memancing sudah semakin sulit mendapatkan ikan," katanya.
Amirudin menyampaikan, sebagai pemangku adat laot setiap saat menerima keluhan para nelayan kecil adanya ulah armada yang mengunakan alat pukat tarik, namun tidak ada yang mampu membendung karena hampir separuh nelayan kawasan itu mengunakan alat tangkap demikian.
Sementara itu Kepala Bidang Kelautan Perikanan dan Alat tangkap Iqbal menambahkan, pihaknya merasa pesimis untuk meyakinkan para nelayan agar tidak lagi mengunakan pukat tarek sebagaimana perintah dalam Permen Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut.
"Mungkin akan kita coba awali dengan sosialisasi, semoga saja dapat diterima oleh nelayan karena pergantian alat tangkap ini berat, apalagi pada 2014 alat tangkap pukat tarik ada yang dibenarkan," katanya.
Iqbal menjelaskan, sebelumnya dalam Peraturan Menteri (Permen) Kelautan dan Perikanan Nomor 18/Permen-KP/2013 membenarkan pengunaan pukat tarik dengan kriteria armada dibawah 5 Gross Tonnege (GT), serta dengan ukuran jaring tertentu.
Revisi Permen Kelautan dan Perikanan ini dimungkinkan sangat sulit diterima oleh para nelayan karena kriteria armada nelayan setempat sebagian besar berkapasitas 5 GT, berbeda dengan daerah lain, apalagi kalau dilarang pastinya para nelayan meminta ganti alat tangkap yang sesuai menurut pemerintah.
Sejak diberlakukan Permen tersebut pada 9 Januari 2015, para nelayan ada yang memprotes dengan anggapan bahwa pukat tarik masih ramah lingkungan dan tidak bertentangan dengan aturan pemerintah.
"Tapi kalau sekarang sudah ada Permen baru, mau tidak mau nelayan harus mengikutinya, mengenai pergantian alat tangkap oleh pemerintah mungkin akan kita fikir lagi bagaimana teknisnya," katanya menambahkan.
Uploader : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.