Tapaktuan (ANTARA Aceh) - Dinas Pertanian dan Peternakan Aceh Selatan telah mampu membuat gebrakan atau inovasi baru mengembangkan tanaman Padi dengan pola tanam sistem of rice intensification (SRI) yakni sistem intensifikasi padi. Hanya saja, belum semua petani sawah di daerah itu termotivasi untuk membudidayakannya.

“Apabila sudah berkembang di seluruh Aceh Selatan terutama di wilayah Kluet Raya yang terdiri dari lima kecamatan, baru inovasi ini disebut berhasil. Menjadi obsesi saya sistem ini untuk dikembangkan di seluruh wilayah Aceh Selatan,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Aceh Selatan Ir Yuslizar di Tapaktuan, Selasa (26/5).

Menurutnya, terdapat keunggulan Padi dengan pola pengembangan SRI ini, antara lain, mampu menghasilkan  gabah kering panen (GKP) 9-11 ton/ha.

Sebagai perbandingan dengan sistem penanaman tradisional-konvensional, SRI ditanam dengan 1 batang bibit, sedangkan dengan tradisional masih dengan menanam bibit hingga 4-5 batang. Namun, pemilihan bibit juga harus berkualitas dan klasifikasi varietas hibrida yang harus pindah tanam dalam waktu singkat.

Dikemukakan, pengembangan padi SRI ini sudah diujicobanya di Gampong (desa) Air Dingin, Kecamatan Meukek seluas 0,3 hektare (ha) yang melibatkan enam pekerja. Sedangkan di lahan lain, dia mengembangkan lebih dari 1 hektare yang ternyata mampu menghasilkan gabah kering giling (GKG) hingga 10-11 ton/ha.

“Tetapi hasil riil perhektare bisa dipastikan antara 9-10 ton/ha,” katanya.

Pengembangan padi ini, menurutnya, mendapat sambutan banyak pihak, termasuk tokoh Aceh Selatan yang berkiprah di badan usaha milik negara (BUMN), Hidayat Nyakman, yang akan membantu fasilitas, sarana dan prasarana untuk 1.000 ha padi SRI di seluruh wilayah Aceh Selatan.

Sekadar mengingatkan, ada kisah mengharukan sekaligus menggelikan  di mana banyak kalangan menuding dirinya sarjana “gila” karena bercocok tanam di luar kebiasaan karena menanam Padi hanya 1 batang. Sebab kebiaasan petani selama ini menanam padi jenis biasa mencapai 5 batang. Namun sekarang, dia dikagumi banyak orang karena kemampuannya berinovasi.

“Kami baru yakin sekarang, ternyata yang dilakukannya membuah hasil sehingga banyak petani yang akan mengembangkan jenis padi tersebut,” kata seorang petani di lokasi pengembangan padi di  Gampong Ie Dingen Kecamatan Meukek.

Mengetahui hasil karyanya yang diakui petani, Kadistannak Aceh Selatan ini hanya menyiratkan kepuasan bahwa dirinya tidak lagi disebut sarjana gila.

Di tengah Aceh Selatan mengembangkan pertanian padi sebagai bagian dari upaya khusus (Upsus) ketahahan pangan, Distannak Aceh Selatan akan lebih serius mengembangkan pertanian padi sawah di daerah itu.



Pewarta: Pewarta : Hendrik
Uploader : Salahuddin Wahid

COPYRIGHT © ANTARA 2026