Meulaboh (ANTARA Aceh) - Sekitar 10 hektare tanaman kacang kedelai di Desa Cot Keumude, Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh mengalami rusak berat akibat diterjang banjir yang melanda daerah itu dua hari terakhir.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Aceh Barat Ir Safrizal, di Meulaboh, Kamis mengatakan, untuk menanggung kerugian masyarakat petani, pihaknya akan segera menyalurkan bibit bantuan untuk ditanam kembali.
"Ada 10 hektare kacang kedelai rusak, ada laporan sudah sampai kekita. Kalau memang tidak bisa tumbuh lagi kita ganti benih lain. Kemudian juga ada kerusakan sarana pertanian tapi kita belum cek apa itu yang rusak," sebutnya.
Terhadap produksi pertanian tanaman padi, kata Safrizal, tidak ada tanaman yang rusak sebab masyarakat dan petani di daerah itu belum lagi menyemai benih, meskipun sudah satu bulan terlewati jadwal musim tanam serentak.
Pada kesempatan yang sama Safrizal juga menyoal gejolak kenaikan harga cabai merah di pasar Meulaboh hingga tembus harga Rp100.000/kg-Rp110.000/kg, kenaikan itu menurut dia bukan akibat faktor gagal panen tanaman cabai lokal.
Sebab di Kabupaten Aceh Barat hanya terdapat dua kecamatan yang terdata membudidayakan komoditas cabai merah, yakni 10 hektere di Kecamatan Meureubo dan sekitar lima hektare di Kecamatan Kaway XVI.
"Sebenarnya bukan gagal panen cabai, memang kondisi jumlah petani yang mau tanam cabai kurang, produksi lokal tidak mampu memenuhi kebutuhan warga Aceh Barat, sehingga kita sangat tergantung pasokan dari luar," katanya.
Lebih lanjut dijelaskan, analisis usaha tani untuk komoditas tanaman cabai merah adalah Rp9.000/kg, apabila harga cabai merah beradar di pasar seharga Rp15.000/kg, maka harga tersebut sudah menguntungkan para petani produsen.
Sementara yang terjadi saat ini adalah boleh dibilang fluktuasi "gila-gilaan", karena harga cabai merah Rp100.000/kg adalah harga tidak normal dan tidak diketahui siapa yang sangat diuntungkan dalam kondisi demikian.
Menurut Safrizal, kondisi gejolak kenaikan cabai merah terjadi secara nasional, artinya ada daerah sentra produksi cabai merah seperti di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) yang mengalami gagal panen.
Maka apabila ada bencana alam seperti kambuhnya erupsi Gunung Sinabung, atau terjadi banjir menyebabkan rusak palawija maupun tanaman sayur di daerah itu, maka begitu cepat berpengaruh terhadap harga sayur yang masuk ke Aceh.
"Selain dari pasar Sumut, kita banyak pasokan dari Kabupaten Nagan Raya, mungkin disana juga ada gagal panen, kalau produksi cabai Aceh Barat memang sangat tidak cukup untuk kebutuhan rumah tangga," jelasnya.
Safrizal menyampaikan, untuk pengembangan komitas cabai merah sudah pasti, pada dua tahun berturut-turut kedepan telah diprogramkan pengembangan tanaman cabai di beberapa kawasan yang akan menjadi sentra lokal.
Akan tetapi mengenai pengaturan harga, adalah kewenangan instansi terkait seperti Dinas Koperasi UKM Perdagangan dan Industri, namun diketahui instansi tersebut juga memiliki keterbatasan untuk kegiatan stabilisasi harga.
Sebab kata Safrizal, stabilisasi harga pangan, termasuk cabai merah saat ini adalah tugasnyanya Perum Bulog karena telah diperintahkan oleh pemerintah pusat, karena itu andil dari Bulog di daerah itu sangat diharapkan.
"Perindag itukan terbatas, sebenarnya yang sangat kita harapkan fungsi Bulog, dimana daerah sentra produksi cabai merah yang banyak itukan bisa disuport ke pasar kita, jangan sampai duluan dibeli agen," katanya menambahkan.
Pewarta: AnwarUploader : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.