Meulaboh (ANTARA Aceh) - Puluhan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Tengku Dirundeng Meulaboh (STAIN-TDM), Kabupaten Aceh Barat mengikuti pembekalan menyikapi persaingan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).
Ketua Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam STAIN-TDM, Amrizal Hamsa, MA di Meulaboh, Sabtu mengatakan, pengetahuan tersebut perlu diberikan sebagai bekal kepada mahasiswa yang akan mengikuti praktik pengalaman lapangan (PPL).
"Secara khusus mahasiswa harus disiapkan untuk menghadapai persaingan pada era Masyarakat Ekonomi Asean. Selain itu juga agar mereka mampu memberikan solusi terhadap persoalan di dalam masyarakat," sebutnya.
Pembekalan terkait softskill dan pengembangan akademik tersebut bertema "Membangun budaya hukum dan perilaku Entrepreneur yang baik", diisi dengan materi tentang kewirausahawan, peluang dan tantangan lulusan perguruan tinggi itu.
Acara tersebut diikuti oleh 73 mahasiswa/i yang berasal dari program studi (Prodi) Hukum dan Ekonomi Islam, Prodi Perbankan Syariah dan Prodi Hukum Pidana Islam, kegiatan PPL mahasiswa tersebut akan dimulai dari 6 Maret-14 April 2017.
Selain bagian dari matakuliah wajib, PPL merupakan pintu untuk memperkenalkan mahasiswa terhadap dunia kerja, karena itu melalui pembekalan dari kampus, maka mahasiswa akan terampil saat berada di lapangan dan ditempatkan pada dunia kerja.
"Setelah selesai pembekalan ini, maka kepada setiap mahasiswa sesuai prodi dan jurusannya nantinya akan ditempatkan pada 28 instansi dunia kerja, baik di instansi pemerintah maupun non-pemerintah," imbuhnya.
Selama pembekalan ini, pihak kampus menghadirkan salah seorang pemateri dari kalangan pengusaha muda di Aceh Barat yakni Zulfriansyah, dia merupakan salah satu lulusan magang di Negara Jepang dan advokad Aceh yaitu Said Atah.
Zulfriansyah dalam materinya menyampaikan, lulusan perguruan tinggi tidak hanya cukup berkemampuan akademis semata, namun lebih daripada itu tantangan dunia kerja membutuhkan kemampuan praktek secara nyata.
"Karenanya, kaum intelektual juga harus mampu mengembangkan segala potensi yang ada, sehingga mampu merebut tiap peluang yang ada. Salah satunya adalah potensi wirausaha, tiap generasi muda harus berpikir untuk hidup secara mandiri," sebutnya.
Zulfriansyah menyampaikan, menjadi seorang wirausaha yang sukses tidak bisa dengan cara instan, tetapi butuh proses dan ketekunan, terlebih lagi dunia usaha era saat ini kerap dianggap sebagai bidang pekerjaan yang tidak menjanjikan.
Lebih lanjut disampaikan, banyak masyarakat Aceh tidak yakin dalam memulai suatu usaha karena takut gagal, bangkrut dan sebagainya, persepsi demikian merubah pola pikir masyarakat sehingga lebih memilih menjadi kariyawan ketimbang menjadi tuan.
Ia menyampaikan, untuk mencapai kesuksesan tidak cukup hanya dengan memiliki bakat, tetapi juga membutuhkan pengetahuan dari segala aspek, danyang paling penting adalah memiliki karakter good attitude.
"Tidak jarang dalam dunia kewirausahawan kita mendapat cemoohan, namun itu semua harus menjadi motivasi untuk terus bangkit. Memulai usaha tidak harus dengan yang memerlukan modal besar, tidak ada usaha yang langsung besar dan seorang wirausahawan harus jeli melihat peluang," demikian Zulfriansyah.
Pewarta: AnwarUploader : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.