Meulaboh (ANTARA Aceh) - Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh mulai mempersiapkan distribusi brigade pompa air kepada masyarakat petani yang mulai melakukan penggarapan sawah karena telah memasuki Musim Tanam (MT) gadu 2017.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Aceh Barat Safrizal di Meulaboh, Senin mengatakan, kebiasaanya pada musim tanam gadu atau istilah musem "ruweung" (bahasa Aceh) kondisi lahan sawah kering, karena musim kemarau.

"Kita sudah sosialisasikan juga kepada petani bahwa saat ini sudah memasuki musim tanam gadu untuk segera turun sawah dan kita juga sudah siapkan brigade pompa air, nanti saat masyarakat butuh mengaliri air ke sawah," ujar.

Safrizal menjelaskan, musim tanam gadu dimulai pada April 2017 setelah berakhirnya musim tanam rendengan akhir Maret 2017.

Untuk perkiraan panen musim gadu pada September 2017 sesuai Indek Pertanaman (IP) dua kali dalam setahun, pihaknya juga telah melakukan sosialisasi agar semua masyarakat mengikuti kegitan tanam serentak sesuai hasil musyawarah.

Terhadap jadwal musim turun sawah tersebut berdasarkan kesepakatan semua pihak yang terlibat bersama antara petani dengan dinas, penyuluh, TNI di 12 kecamatan yang telah duduk bersama bermusyawarah sesuai tradisi masyarakat lokal.

"Jadwal musim turun sawah ini sudah duduk bersama di 12 kecamatan, bahwa jadwal musim tanam juga telah ditentukan sesuai perhitungan. Di Aceh Barat kalaupun bulan April 2017 diprediksi musim kemarau, tapi disela itu juga ada hujan," katanya.

Kebiasaanya di musim gadu atau musim kemarau, masyarakat petani di Aceh dahulunya sering memanfaatkan waktu ruang itu untuk menanam pala wija seperti kacang tanah, jagung dan kacang kedelai di area sawah sambil menanti musim penghujan.

Akan tetapi tradisi tersebut sudah jarang dilakukan oleh petani karena prediksi prakiraan cuaca terkadang meleset sehingga pala wija yang sedang tumbuh terendam air banjir karena intensitas curah hujan tinggi, padahal masih di musim kemarau.

Beberapa kawasan yang terpantau sudah mulai mengarap sawah seperti sebagain di pesawahan Blang Beurandang, Pasie Jambu, Marek, serta beberapa kawasan area pesawahan di wilayah Kecamatan Kaway XVI, Meureubo dan Johan Pahlawan.

Abdul, petani yang ditemui di Desa Pasie Jambu, Kecamatan Kaway XVI menuturkan, yang membuat minat petani lebih tertarik tanaman padi karena secara ekonomis lebih menguntungkan ketimbang menanam pala wija di antara ruang dua musim turun sawah.

"Kalau dulu, bisa kita tanam kacang di sawah, apalagi kondisi sawah tadah hujan. Tapi kondisi saat ini kadang sedang kemarau tiba-tiba hujan. Danpun tanaman padi saat ini lebih mudah di kelola dan hasilnya jauh lebih menguntungkan," katanya.




Pewarta: Anwar
Uploader : Salahuddin Wahid

COPYRIGHT © ANTARA 2026