Meulaboh (ANTARA Aceh) - Satu unit kapal nelayan hancur setelah dihantam gelombang di muara Krueng Cangkoi, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat, Provinsi Aceh, Rabu dini hari.

"Kejadiannya tadi malam, sampai pukul 01.00 WIB kapal masih nyangkut, kemudian dihempas gelombang pasang akhirnya hancur begini,"kata Hamdan, seorang nelayan ditemui di 

Kapal Motor (KM) Nagan Raya, itu dinahkodai Iwan bersama dua anak buah kapal yakni Nasrul dan Imam, kapal hancur dihempas gelombang pada pukul 00.15 dini hari.

Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, namun kerugian capai ratusan juta rupiah, katanya.

Hingga Rabu (3/5) pukul 09.30 WIB, nelayan dibantu masyarakat pesisir kawasan Desa Padang Seurahet masih berupaya mengevakuasi bangkai kapal yang telah hancur dan membongkar mesin kapal yang barangkali masih bisa digunakan setelah diperbaiki.

Panglima Lhok Padang Seurahet Anwar kepada wartawan menyampaikan, kapal motor berkapasitas 6 grosstonnage (GT) tersebut kandas ketika masuk muara, selain karena bermuatan lebih, kedangkalan muara membuat kapal tersebut tertahan dan terhempas.

"Kapal ini baru pulang dari melaut untuk membongkar hasil tangkapan, begitu masuk muara tertahan. Kerugian harta benda Rp250 juta karena badan boadnya patah tiga dan ikan-ikan ada 3 ton saat kejadian habis hanyut,"sebutnya.

Dijelaskan, secara teknis kejadian tersebut akibat tidak stabilnya arus dan hempasan gelombang ke mulut muara karena tanggul penahan gelombang (break water) yang telah dibangun pemerintah tidak sama panjang menjulang ke arah laut.

Kondisi tersebut, kata Anwar, membuat arus hempasan tidak stabil dan menghantam dengan kuat semua yang tertahan di mulut muara, beruntung tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut karena nahkoda dan ABK berhasil melompat ke air.

Kata dia, sepanjang 2017 telah terjadi empat kali musibah kapal nelayan hancur dan tenggelam di mulut muara Kreung Cangkoi tersebut, pemda telah berupaya membangun tanggul penahan gelombang, tapi musibah tetap terjadi karena cuaca ekstrim.

"Keberadaan tanggul penahan gelombang ini sebenarnya sudah bagus, tapi karena tidak sama panjang membuat arus gelombang tidak stabil. Harapan kita pemerintah menyesuaikan panjang tanggul ini biar tidak ada musibah lagi," katanya menambahkan.



Pewarta: Anwar
Uploader : Salahuddin Wahid

COPYRIGHT © ANTARA 2026