Blangpidie (ANTARA Aceh) - Pihak Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) memprediksi hasil panen padi Musim Tanam (MT) Gadu 2017 menurun 10 sampai 15 persen dari tahun sebelumnya, akibat musim kemarau panjang melanda daerah itu.

Kepala Dinas Pertanian Abdya, Muslim Hasan di Blangpidie, Senin mengatakan, selain musim kemarau, menurunnya hasil produktivitas padi MT gadu juga disebabkan beberapa faktor lainnya seperti serangan hama wereng coklat dan faktor benih padi tidak unggul.

"Benar, kita perdiksi tahun ini produktivitas padi di Abdya bakal turun sebesar 10 hingga 15 persen dari hasil panen tahun sebelumnya yang mencapai 8,2 ton/hektare. Hal ini disebabkan banyak faktor, terutama hama wereng coklat, musim kemarau dan penggunaan benih tidak tepat," ujar dia.

Biasanya, kata dia, benih padi unggul setiap musim tanam disediakan Pemkab Abdya dan disalurkan secara gratis oleh Dinas Pertanian ke masyarakat tani di pedesaan, sehingga setiap tahun hasil panen melimpah karena tanaman padi tumbuh subur dan tahan terhadap hama penyakit.

Namun, pada musim tanam gadu tahun ini Distan tidak lagi menyediakan benih unggul tersebut, sebab dana untuk pengadaan bibit padi unggul sudah dilimpahkan pada desa masing-masing melalui Alokasi Dana Gampong (ADG) sumber Anggaran Pendapatan Belanja Kabupaten (APBK).

Kemudian, berhubung proses pencairan dana desa 2017 terlambat sehingga penyediaan benih di desa menjadi tidak jelas dan petanipun terpaksa menggunakan hasil panen tahun lalu untuk dijadikan benih MT gadu ini.

"Serangan hama wereng coklat, itu sangat berpengaruh pada tanaman padi. Penyakit itu sebelumnya  tidak ada di Abdya. Tapi tahun ini semua lahan sawah diserang hama wereng dan yang paling parah di lahan sawah Kecamatan Setia," tuturnya.

Muslim mengatakan, pihak Distan bersama dengan para petani telah berusaha semaksimal mungkin untuk mengantisipasi hama wereng coklat dengan cara melakukan semprot massal di setiap lahan persawahan, namun hama itu masih tetap membandel.

"Selain faktor benih dan hama wereng, musim kemarau juga mengganggu produktifitas, karena sejak awal tanam hingga padi sudah mengeluarkan malai, lahan sawah kering tidak ada hujan," ujarnya.

Salah seorang petani dari Kecamatan Kuala Batee, Muhammad Nasir, mengatakan, dampak kemarau panjang membuat petani terpaksa harus mengeluarkan biaya tinggi untuk perawatan tanaman padi.

"Dulu tidak ada biaya cabut rumput,  karena dulu debit air stabil di lahan sawah. Jadi, rumput-rumput tidak tumbuh.  Tapi  kalau tahun ini rumput cukup banyak tubuh mengganggu tanaman padi karena kekeringan," katanya.

Ia mengatakan, untuk satu hektare lahan sawah, tahun ini petani harus mengeluarkan biaya sebesar Rp3 juta khusus untuk pemeliharaan tanaman padi dari serangan rumput liar.

"Jika rumput itu dibiarkan tumbuh menggangu tanaman padi di sawah, otomatis tanaman padi diserang hama tikus," katanya.



Pewarta: Suprian
Uploader : Salahuddin Wahid

COPYRIGHT © ANTARA 2026