Banda Aceh (ANTARA Aceh) - Dua satelit Terra dan Aqua yang digunakan untuk melakukan penyensoran dengan teknologi modis memantau 19 titik panas di wilayah Aceh.
Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Stasiun Kelas I Blang Bintang, Zakaria di Aceh Besar, Ahad, mengatakan, titik panas terdeteksi berada di tiga kabupaten/kota.
"Sore ini, terpantau oleh satelit sebanyak 19 hotspot (titik panas) di tiga daerah dari total 23 kabupaten/kota di Aceh," jelas dia.
Dari total titik panas yang terdeteksi, lanjutnya, 12 titik diantaranya terpantau di Aceh Timur, atau lebih tepatnya berada di empat kecamatan.
Yakni di Suak Raya terdeteksi lima titik, Rantau Selamat empat titik, dan Birembayeum dua titik, dan Peureulak Timur satu titik panas.
Lalu Langsa menyumbang lima titik panas yang terletak di dua kecamatan yakni Langsa Lue Kota terpantau tiga titik, dan Langsa Lue Barat dua titik.
Terakhir Aceh Tamiang memberi sumbangan dua titik panas dengan lokasinya terdiri dari dua kecamatan yaitu Bendahara, dan Manyak Payet.
"Ke-19 titik panas yang terpantau satelit, mayoritas memiliki tingkat kepercayaan kebakaran hutan dan lahan yang tinggi," tutur Zakaria.
Dilaporkan, pekan ini sekitar 62 hektare kawasan hutan dan lahan sudah terbakar pada tiga kabupaten di Aceh yakni Pidie 50 hektare, Nagan Raya 10 hektare, dan Aceh Barat dua hektare.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Pidie, Apriadi, mengaku, areal hutan yang terbakar ditumbuhi oleh tanaman pinus berada di Desa Seukeuk, Kecamatan Tangse.
"Kondisi (hutan terbakar) sudah padam, hanya tinggal sisa api kecil. Tim karhutla (kebakaran hutan dan lahan), di antaranya terdiri Kodim, Polres, dan BPBD Pidie stanby (siaga) di tempat kejadian," ujarnya.
Dalam dua hari terakhir, pihaknya masih mengerahkan tim darat terdiri dari unsur TNI/Polri, BPBD dan masyarakat untuk menyekat sumber api yang masih tersisa dengan jumlah sekitar 200 personel.
"Permintaan untuk water boombing (bom air) sudah tidak diperlukan lagi, begitu pun juga dengan tim pendampingan BNPB. Kami kira, sudah memadai," ujarnya.
Pewarta: Muhammad SaidUploader : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.