Beberapa warga menyaksikan langsung proses tersebut dan berharap langkah pawang dapat mencegah harimau semakin sering memasuki kawasan desa. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil maksimal karena harimau masih terlihat di sekitar kawasan hutan di daerah tersebut.
Hamidan mengatakan warga menghentikan aktivitas berkebun dan memilih berdiam di rumah. Pada malam hari, desa tampak gelap karena tidak ada penduduk yang berani bergerak di luar.
"Warga takut. Anak-anak tidak boleh keluar rumah. Malam hari kampung sunyi total. Semua hanya bisa berjaga di dalam rumah," katanya.
Hamidan menyebut bahwa penyebab utama turunnya harimau ke permukiman adalah menyempitnya habitat satwa akibat pembabatan hutan di kawasan perbukitan sekitar desa.
"Hutan di sekitar Sijudo hampir habis dibabat pengusaha. Harimau kehilangan tempat hidupnya dan turun ke kampung. Yang menanggung risikonya masyarakat," ujarnya.
Baca: BKSDA imbau warga tidak lepas liarkan ternak cegah gangguan harimau
Ia mengatakan warga sebenarnya mampu melakukan tindakan darurat untuk menghalau harimau, tetapi takut terjerat masalah hukum mengingat harimau Sumatera termasuk satwa yang dilindungi negara.
"Kalau tidak melanggar hukum, mungkin kami sudah mengusirnya. Tapi nanti masyarakat yang disalahkan. Keselamatan warga sendiri tidak ada yang peduli," kata dia.
Hamidan mendesak BKSDA Aceh, pemerintah daerah, serta pihak keamanan untuk segera menangani situasi tersebut sebelum terjadi insiden yang tidak diinginkan.
"Ini bukan persoalan kecil. Nyawa manusia taruhannya. Negara harus hadir sekarang, bukan setelah tragedi," kata Hamidan.
Baca: Harimau sumatra mangsa sapi warga di Aceh Timur
Pewarta: HayaturrahmahEditor : M.Haris Setiady Agus
COPYRIGHT © ANTARA 2026