Selain itu, masyarakat terdampak bencana yang tinggal di hunian sementara (Huntara) termasuk Aceh juga mendapatkan uang pembelian isi perabotan rumah Rp3 juta per KK, dan biaya ekonomi Rp5 juta per KK dari Kemensos.
Tak hanya itu, dalam proses pemulihan pascabencana ini, pemerintah juga memberikan bantuan jaminan hidup kepada keluarga terdampak sebesar Rp600 ribu per KK/bulan.
Agus menilai, berbagai program tersebut dapat membantu memperbaiki ekonomi Aceh tahun ini. Mengingat, perekonomian Aceh selama ini memang sangat bergantung dari belanja pemerintah.
"Kita harapkan juga nantinya untuk belanja barang, tenaga kerja dan lainnya dapat diupayakan di Aceh, sehingga uangnya berputar di sini. Apabila itu masuk ke Aceh, ini bisa menggantikan efek bencana," kata Agus.
Baca: BI: Pertumbuhan ekonomi Aceh masih menjadi tantangan
Menurutnya, perekonomian Aceh 2026 tumbuh juga didorong oleh adanya program relaksasi pembiayaan oleh perbankan, sehingga dana angsuran yang tak dipotong tersebut dapat digunakan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari.
Apalagi, lanjut Agus, pertumbuhan ekonomi Aceh itu sekitar 54 persen dari konsumsi rumah tangga, dan ditambah adanya bansos, maka konsumsi akan membantu menumbuhkan ekonomi Aceh.
"Bantuan sosial ini dan berbagai program pemerintah sangat membantu. Karena itu, kita harapkan segera dicairkan. Upaya pemerintah seperti ini saya rasa mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di 2026," ujarnya.
Dengan berbagai upaya pemerintah tersebut, Agus berharap benar-benar bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi Aceh, bahkan bisa melebihi dari tahun 2025 lalu.
"Mudah-mudahan bisa mempercepat, artinya pertumbuhan ekonomi 2026 bisa sedikit lebih tinggi dari 2025, atau dapat mencapai 4,5 lebih. Tapi kita optimis perekonomian Aceh pascabencana tidak buruk-buruk amat dan tumbuh cepat," demikian Agus Chusaini.
Pewarta: Rahmat FajriEditor : M.Haris Setiady Agus
COPYRIGHT © ANTARA 2026