Banda Aceh (ANTARA) - Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) menargetkan produksi minyak dan gas bumi (migas) di wilayah kerja (WK) Aceh atau lifting gabungan pada 2026 ini sebesar 10.519 BOEPD (Barrel of oil equivalent per day) atau setara barel minyak per hari.

"Total target lifting gabungan gas dan minyak tahun 2026 mencapai 10.519 BOEPD," kata Kepala BPMA, Nasri Djalal, di Banda Aceh, Kamis.

Dirinya menyampaikan, berdasarkan WP&B (work program and budget) atau program kerja dan anggaran 2026, maka telah diputuskan bahwa untuk target lifting tahun ini mencapai 10.519 BOEPD.

"Target tersebut terdiri dari produksi gas sebesar 48,40 MMSCFD (Million standard cubic feet per day) atau juta standar kaki kubik per hari, dan minyak 1.876 BOPD (Barrel of oil per day) atau barel minyak per hari," ujarnya.

Baca juga: BPMA percepat pemulihan jaringan migas yang rusak akibat bencana Aceh
 

Target 2026 ini, lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya yakni 9.625 BOEPD dari gas 44.58 MMSCFD dan kondensat 1.665 BOPD. Sedangkan untuk realisasi hanya mencapai 9.060 BOEPD, terdiri dari gas 41.40 MMSCFD dan kondensat 1.667 BOPD.

Adapun Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dalam wilayah kerja di bawah kewenangan BPMA yang aktif berproduksi saat ini yaitu, di WK A dioperatori PT Medco E&P Malaka, WK B oleh PT Pema Global Energi), dan WK Pase dilaksanakan Triangle Pase Inc.

Nasri menjelaskan, dinaikkannya target lifting 2026 ini merupakan hal menantang bagi BPMA, karena pada  2025, terdapat beberapa kejadian tak terduga, yaitu bencana (force majeure) banjir di wilayah kerja mereka.

Kemudian, juga terjadinya kebakaran tangki F-2101 atau tempat penyimpanan kondensat milik PGE pada 25 November 2025, kondisi ini mempengaruhi kemampuan operasional produksi, terutama lifting 2026 oleh KKKS.

"Dengan terjadinya bencana banjir dan longsor serta kebakaran tangki F-2101 di 2025, maka kondisi ini cukup mempengaruhi produksi untuk 2026," katanya.

Nasri menjelaskan, pasca insiden kebakaran yang mempengaruhi produksi kondensat tersebut, telah dilakukan implementasi skema injeksi kondensat selama tiga bulan, langkah ini untuk memberikan dampak baik terhadap capaian lifting minyak kedepannya.

Ia menambahkan, terdapat beberapa tantangan produksi tahun ini, seperti perlunya peremajaan fasilitas produksi, melepas ketergantungan pada fasilitas pihak lain, di mana operasi dan perawatan fasilitas tidak dapat ditangani langsung oleh KKKS.

Kemudian, ketersediaan peralatan untuk kegiatan peningkatan produksi (drilling, workover, well service) yang dapat mempengaruhi target yang telah ditetapkan. Karena kejadian kebakaran F-2101 berdampak pada produksi kondensat, maka diperlukan penyesuaian penyaluran.

"BPMA bersama KKKS sedang mengupayakan langkah strategis agar produksi minyak pasca insiden tangki F-2101 tetap dapat berproduksi, sehingga bisa menjaga stabilitas capaian lifting minyak serta meminimalkan penurunan total lifting minyak sesuai target 2026," demikian Nasir Djalal.


Baca juga: BPMA targetkan belanja dalam negeri hulu migas hingga 63 persen pada 2026



Pewarta: Rahmat Fajri
Editor : Febrianto Budi Anggoro

COPYRIGHT © ANTARA 2026