Banda Aceh (ANTARA) - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Tamiang Syaiful Bahri menyatakan, daerah tersebut membutuhkan populasi sekitar 600 ribu indukan ayam untuk mewujudkan swasembada telur.

Tingginya harga telur ayam di Aceh Tamiang karena pasokannya masih bergantung dari Provinsi Sumatera Utara (Sumut).

"Saat ini Aceh Tamiang masih bergantung hingga 95 persen pada pasokan telur ayam dari Sumatera Utara," kata Syaiful Bahri, di Aceh Tamiang, Sabtu.

Syaiful menyebutkan, saat ini harga di tingkat produsen (kandang), telur kategori premium menyentuh angka Rp2.000 hingga Rp2.100 per butir. Kondisi ini mengalami kenaikan dari sebelumnya sekitar Rp1.700-Rp1.800 per butir.

Wakil Rakyat ini juga mengungkapkan bahwa kenaikan harga ini dipicu oleh siklus peremajaan indukan (re-stocking) yang dilakukan peternak pada awal tahun dan Ramadhan.

"Banyak indukan yang baru diganti, sehingga produksi belum stabil. Di sisi lain, permintaan menjelang Lebaran meningkat drastis," ujarnya.

Dirinya mengatakan, Aceh Tamiang membutuhkan populasi sekitar 500 ribu hingga 600 ribu indukan ayam petelur untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat secara mandiri. Jumlah tersebut untuk melepaskan ketergantungan pasokan dari luar provinsi, terutama dari Sumatera Utara.

Dirinya menuturkan, proyek percontohan (pilot project) peternakan ayam petelur di Aceh Tamiang sejauh ini baru mampu memenuhi 5 persen dari total kebutuhan daerah. Dengan produksi sekitar 8.000 butir per hari, angka tersebut masih jauh dari ideal. 

Saat ini, pusat pengembangan baru ada terkonsentrasi di Desa Air Masin, Kecamatan Seruway, dengan total tujuh kandang berkapasitas 5.000–6.000 ekor per unit.

"Dari tujuh kandang tersebut, lima sudah beroperasi dan dua lainnya dalam tahap konstruksi. Target kami adalah mencapai populasi 50 ribu hingga 60 ribu ekor," kata Syaiful yang juga penggagas industri ayam petelur di Aceh Tamiang.

 

Keunggulan bahan baku

Menurut dia, Aceh Tamiang sejatinya memiliki keunggulan kompetitif pada sektor hulu pakan. Karena sekitar 70 persen bahan baku berupa jagung dan dedak padi melimpah di Aceh.

Peluang ini seharusnya dapat menekan biaya produksi jika dikelola dengan industri pengolahan pakan lokal, sehingga peternak tidak lagi bergantung pada pakan pabrikan dari Sumatera Utara.

Karena itu, dalam rangka memulihkan ekonomi pascabanjir, Syaiful mendorong pemerintah daerah melalui Dinas Peternakan untuk menggulirkan program stimulus, baik berupa bantuan bibit maupun pembangunan infrastruktur kandang.

"Kami mengajak masyarakat, baik skala UMKM maupun industri, untuk melirik sektor ini. Secara pribadi, saya siap memberikan pendampingan teknis dan membuka terobosan bagi siapa saja yang ingin memulai budidaya ayam petelur," kata Syaiful.

Sementara itu, Kepala Diskoperindag dan UKM Aceh Tamiang, Ibnu Azis menyatakan bahwa pihaknya segera melakukan operasi pasar atau inspeksi mendadak (sidak) di sejumlah pasar tradisional terkait kenaikan sejumlah bahan pokok jelang lebaran Idul Fitri.

Untuk menekan lonjakan harga pangan, saat ini pihaknya juga telah bekerja sama dengan pemerintah provinsi guna menggelar pasar murah di sejumlah titik strategis tingkat kecamatan.

"Iya kita sudah dengar mulai ada kenaikan harga mendekati lebaran. Rencana, Senin (16/3) kita akan turun sidak ke pasar untuk mengontrol harga-harga komoditas. Saat ini yang kami lakukan adalah membuka pasar murah dengan harga yang terjangkau warga sudah bisa bawa pulang paket sembako," demikian Ibnu Azis.

 

Baca juga: Ini total telur disumbang Perhimpunan Peternak untuk korban banjir Aceh



Pewarta: Rahmat Fajri
Editor : Febrianto Budi Anggoro

COPYRIGHT © ANTARA 2026