Banda Aceh (ANTARA) - Kantor Imigrasi Kelas I Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Banda Aceh menggelar Operasi Wirawaspada sebagai bagian dari program nasional mengawasi orang asing yang dilaksanakan serentak di Indonesia.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Banda Aceh Bambang Tri Cahyono di Banda Aceh, Senin, mengatakan Operasi Wirawaspada bukan sekadar seremonial atau inspeksi rutin.
"Operasi ini adalah upaya deteksi dini. Kami ingin memastikan setiap keberadaan orang asing di wilayah kerja Imigrasi Banda Aceh benar-benar memberikan kontribusi positif dan tidak melanggar ketentuan hukum berlaku," kata Bambang Tri Cahyono.
Operasi Wirawaspada dipimpin Kepala Seksi Intelijen dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas I TPI Banda Aceh Rudianto Girsang. Operasi menyisir titik strategis dengan aktivitas warga negara asing serta lokasi merepresentasikan beragam aktivitas lintas budaya.
Lokasi pemeriksaan pertama di Fatih Bilingual School, tim operasi mendalami keberadaan tenaga pengajar asing yang berkontribusi dalam sistem pendidikan berbasis internasional.
Pemeriksaan tidak hanya berfokus pada kelengkapan dokumen keimigrasian, tetapi juga kesesuaian aktivitas mengajar dengan izin yang diberikan, kata Bambang Tri Cahyono.
Sementara itu, di PT Solusi Bangun Andalas, pabrik semen di kawasan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, pengawasan diarahkan pada tenaga kerja asing di sektor industri, yang memiliki risiko tinggi terhadap pelanggaran izin kerja jika tidak diawasi secara ketat.
Operasi Wirawaspada juga menyasar lingkungan akademik seperti UIN Ar-Raniry. Kampus ini diketahui menjadi tujuan mahasiswa asing, baik dalam program pertukaran maupun studi penuh.
Tim Operasi Wirawaspada melakukan verifikasi terhadap izin tinggal mahasiswa sekaligus memastikan tidak ada penyalahgunaan visa di luar kepentingan akademik.
Pengawasan juga menyasar ruang sosial seperti Indian Coffee House Aceh. Tempat ini, yang dikenal sebagai titik temu komunitas lokal dan internasional, menjadi lokasi strategis untuk mengamati interaksi informal warga negara asing.
"Dalam pendekatan yang lebih halus, Tim Wirawaspada tidak hanya melakukan pemeriksaan, tetapi juga mengedepankan dialog untuk memahami pola aktivitas dan mobilitas orang asing di ruang publik," katanya.
Dalam operasi tersebut, kata dia, tim operasi juga menyosialisasikan penggunaan Aplikasi Pelaporan Orang Asing (APOA) kepada pengelola institusi dan pelaku usaha.
Menurut dia, dalam beberapa kasus ditemukan tingkat pemanfaatan aplikasi tersebut masih belum optimal, yang berpotensi menciptakan celah dalam sistem pengawasan.
"Dari hasil operasi tidak ditemukan pelanggaran, namun pengawasan harus tetap terus diperkuat. Operasi Wirawaspada menggambarkan wajah lain dari globalisasi di daerah, keterbukaan membawa peluang, sekaligus tantangan dalam menjaga kedaulatan administratif," kata Bambang Tri Cahyono.
Pewarta: M.Haris Setiady AgusEditor : Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026