Kutacane (Antaranews Aceh) - Sejumlah petani komoditas pangan mengeluhkan kian anjloknya harga jagung di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh, dari harga normal berkisar Rp3.700 per kilogram kini turun menjadi Rp3.200 per kilogram.

"Harga jual jagung turun sekitar Rp500 per kilogram, dibandingkan dengan harga sebelumnya yang bisa mencapai Rp3.700 per kilogram," ucap Rajasah (61), petani di Desa Perapat Sepakat, Kecamatan Babussalam, Kutacane, Selasa.

Anjloknya harga jual komoditas tanaman pangan itu, lanjutnya, membuat para petani kebingungan dalam menentukan sikap terhadap hasil pertanian ini dengan masa tanam empat bulan atau tiga kali dalam setahun.

Sebab, kata dia, hasil panen tidak sesuai dengan biaya yang selama empat bulan yang dikeluarkan oleh petani. Seperti membeli bibit, pupuk, dan perawatan hingga mengupah para pekerja.

Data terakhir Dinas Pertanian setempat menyatakan, luas tanaman jagung sekitar 16.679 hektare dengan masa tanam tiga kali setahun yang mampu memproduksi sekitar 220 ribu ton per tahun.

"Kalo Rp3.500 per kilogram, kami nilai telah sesuai. Memang jagung ini harga jualnya tak pernah bisa stabil, apa lagi petani tergantung kepada tengkulak (pedangang pengumpul)," terang Rajasah.

Raden (37), petani lainnya mengaku, harga jual bahan baku untuk pakan ternak tersebut turun yang dimungkinkan akibat pengaruh cuaca yakni musim hujan.

Badan Pusat Statistik mencatat, bahwa Aceh Tenggara merupakan kabupaten nomor lima yang berhasil mengentaskan kemiskinan dari 23 kabupaten/kota di Aceh karena daerah sentra produksi jagung dalam satu hektare rata-rata mampu memproduksi 7,2 ton jagung.

"Kalau tengah di puncak musim baik hujan dan kering, petani di Agara (Aceh Tenggara) ini menghadapi dilema. Otomatis panen dini, dan harga jual sering jatuh terutama puncak musim hujan," terang dia.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman di tahun 2016 pernah mengatakan, saat serapan jagung lokal oleh perusahaan pakan ternak rendah, sehingga harga jual jagung domestik menjadi tidak stabil.

Akibatnya, mentan mengaku, perusahaan pakan ternak lebih sering melakukan impor jagung untuk kebutuhannya, dibandingkan menyerap hasil jagung petani lokal.

"Jangan sampai terulang lagi harga jagung petani jatuh, karena pengusaha pakan yang bermain-main tidak menyerap jagung. Tolong jangan cederai ini, jaga harga jagung petani, saya tidak main-main," ujar Menteri Amran usai melakukan kerja sama gabungan perusahaan pakan ternak dengan kepala Dinas Pertanian di Indonesia.



Pewarta: Muhammad Said
Uploader : Salahuddin Wahid

COPYRIGHT © ANTARA 2026