"Dinas Arsip dan Perpustakaan Aceh harus mengelola dan memastikan manajemen arsip tertata rapi sehingga berbagai data yang ada tersusun dan tersimpan dengan rapi," katanya di Banda Aceh, Kamis.
Ia menjelaskan lembaga arsip haruslah menjadi inspirasi bagi pemerintahan, karena tidak ada lagi sistim manual dalam pengarsipan melainkan sistem jaringan dan komputerisasi.
"Inovasi seperti i-pustaka atau pustaka online menjadi keunggulan di masa mendatang," katanya.
Menurut dia seiring perkembangan teknologi tidak ada lagi gudang arsip dan lemari arsip, karena pihaknya akan terus meningkatkan anggaran untuk kearsipan yang memiliki nilai yang sangat berharga.
"Arsip itu punya nilai ekonomi bahkan bernilai politik. Apa pun yang dibutuhkan demi tertatanya arsip secara baik, anggarannya akan dialokasikan pemerintah," katanya.
Dosen Arsitektur Unsyiah Dyah Erti Idawati menjelaskan pengelolaan arsip dalam keseharian sangat penting mengingat Aceh sebagai daerah yang tingkat kerawanan bencananya tinggi.
Ia mengaku dirinya pernah dua kali gagal naik pangkat di kampus Unsyiah akibat arsip miliknya hilang terkena bencana sehingga perlu juga adanya arsip setiap individu dikelola dengan baik.
"Artinya, setiap individu harus mengelola arsipnya sendiri secara baik, jika perlu ada bunker bawah tanah sebagai tempat penyimpan arsip sehingga arsip aman dari bencana," katanya.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Aceh, Wildan mengatakan saat ini pihaknya tengah menyusun program penyimpanan arsip individu, di mana ?nantinya setiap pribadi bisa menyimpan semua arsip pribadi dan dijamin keamanannya.
Pewarta: M IfdhalEditor : Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.