"Secara keseluruhan c to c atau kumulatif ke kumulatif, kita (Aceh) memang masih berada di bawah nasional. Nasional 5,17 persen, kita hanya 4,61 persen," ujar Kepala BPS Aceh, Wahyudin di Banda Aceh, Kamis.
Ia menerangkan, sedangkan pertumbuhan ekonomi tanpa migas di provinsi paling barat Indonesia itu tumbuh sebesar 4,49 persen selama tahun lalu, sementara tahun 2017 tercatat 4,13 persen.
Angka pertumbuhan 4,61 persen tersebut dipengaruhi sisi produksi dengan tumbuh paling tertinggi oleh lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 8,28 persen.
Sedangkan dari sisi pengeluaran pertumbuhan tertinggi dialami oleh komponen ekspor luar negeri, diantaranya komoditas batubara yang meningkat pesat dengan total sebesar 51 persen.
Pertumbuhan ekonomi ini juga ditopang dari mulai berproduksi kedua perusahaan migas di Aceh, yakni Medco Malaka dan Triangle Pase sejak pertengahan tahun 2018.
"Walaupun realisasi anggaran kita malah menurun. Di 2017 realisasi mencapai 92,7 persen, sedang 2018 sebesar 81,8 persen. Rendahkan ya, tapi karena ada tambahan pertambangan tadi yang cukup tinggi," jelasnya.
Ia melanjutkan, angka pertumbuhan ekonomi Aceh ini menempati peringkat ketujuh dari 10 provinsi di Sumatera dengan rata-rata mengalami pertumbuhan 4,54 persen.
"Jadi kalau di Sumatera itu teratas Sumsel 6,04 persen, Lampung 5,25 persen, Sumut 5,18 persen, Sumbar 5,14 persen, Bengkulu 4,99 persen, dan Jambi 4,71 perseng," terang dia.
"Aceh itu, berada di peringkat ketujuh dengan 4,61 persen, disusul Kepulauan Riau 4,56 persen, Bangka Belitung 4,45 persen, dan Riau cuma 2,34 persen," kata.
Tetapi distribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumatera, lanjutnya, justeru provinsi "Bumi Lancang Kuning", julukan bagi Riau memberi kontribusi 23,36 persen, disusul Sumut 22,92 persen, dan Sumsel 12,98 persen.
"Sedangkan Aceh, cuma memberi 4,82 persen dengan perekonomian 2018 berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp155,91 triliun, dan PDRB perkapita mencapai Rp29,73 juta atau 2,09 ribu dolar AS," tutup Wahyudin.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,17 persen sepanjang 2018 atau menunjukan peningkatan dibanding pertumbuhan 2017 yang sebesar 5,07 persen.
"Ini menunjukkan tren yang baik, karena dibandingkan beberapa tahun terakhir, pertumbuhan 2018 adalah yang cukup tinggi yakni sebesar 5,17 persen secara kumulatif," kata dia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,17 persen pada 2018 terbantu konsumsi rumah tangga kembali pulih ke tren pertumbuhan di atas lima persen setelah pada 2017 anjlok 4,9 persen.
"Ekonomi kita itu pertumbuhan konsumsi sama pembentukan modalnya (pembentukan modal tetap bruto/PMTB) memang baik, sehingga sebetulnya secara musiman itu kita tahu kan," katanya
***1***
Pewarta: Muhammad SaidUploader : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026