Banda Aceh (ANTARA) - Puncak Bencana Aceh sudah hampir setengah tahun berlalu, namun banyak kisah kemanusiaan yang belum banyak orang tahu. Kisah Maulizar ini tidak viral di media sosial, hanya beredar dari mulut ke mulut para penyintas, dan sayang untuk tidak dituliskan.
Mari kita kembali ke tanggal 25 November 2025, ketika Aceh diguyur hujan lebat karena pengaruh siklon tropis senyar di perairan sumatera hingga membuat air sungai meluap ke pemukiman warga. Sebanyak 18 kabupaten/kota mengalami bencana banjir dan longsor, salah satunya di Kabupaten Aceh Utara tempat kisah ini terjadi.
Air bah datang tanpa ampun menenggelamkan apa yang ada di daratan. Rumah-rumah, fasilitas umum hingga manusia dihanyutkannya. Semua berusaha menyelamatkan diri sendiri, tapi sebuah panggilan telepon pada malam itu menjadi pembeda nasib Aipda Maulizar.
Baca juga: 200 meter pengaman sungai rusak akibat banjir Aceh Utara
Anggota polisi yang bertugas sebagai Kanit Intel di Polsek Sawang Polres Lhokseumawe ini mendapat telepon dari sejumlah warga Desa Blang Reuling dan Paya Rabo, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara. Semua pesan berbunyi sama: mereka minta tolong dievakuasi.
Sebabnya, banjir di dua desa sudah mencapai ketinggian empat meter dan terus naik. Warga terjebak di permukiman dan atap-atap rumah jadi pijakan akhir mereka.
Maulizar dihadapkan pada pilihan sulit. Bertahan bersama keluarga yang juga sudah mulai banjir, atau menerobos arus deras demi menyelamatkan masyarakat yang terjebak di atap rumah.
Nyaris Hanyut
Keputusan pun diambil sekitar pukul 00.05 WIB. Aipda Maulizar kemudian menghidupkan mesin mobil menuju ke wilayah kerjanya di Desa Blang Reuling untuk mengevakuasi warga.
Namun di tengah perjalanan, tepatnya di Desa Gle Dagang, Kecamatan Sawang, ia tidak dapat melanjutkan perjalanan karena debit air di badan jalan sudah mencapai kurang lebih satu meter.
Kendaraannya pun ikut terbawa arus, sialnya mesin mobil pun mogok. Ia sempat terjebak di dalam mobil dan nyaris hanyut. Bersusah payah ia akhirnya berhasil keluar melalui jendela depan.
"Mobil saya sempat terseret arus, pintu mobil tidak bisa dibuka karena tekanan air, sehingga saya menurunkan jendela dan berhasil keluar," kata Aipda Maulizar saat menceritakan kisahnya kepada Antara, Sabtu (29/3).
Setelah selamat dari maut, polisi angkatan 2006 gelombang kedua itu kembali melanjutkan perjalanan, kali ini menghubungi tim BNPB dan SAR meminta bantuan perahu karet agar diarahkan ke Kecamatan Sawang.
Tetapi, akibat kondisinya masih darurat dan akses lumpuh karena hampir semua kawasan dilanda banjir. Bantuan tidak dapat didatangkan dengan segera.
Baca juga: Sebanyak 2.313 korban banjir di Aceh Utara terima bantuan Jadup
Evakuasi 200 orang
Di tengah kebingungan, Maulizar kembali mendapatkan panggilan telepon dari salah seorang guru mengaji serta sejumlah santri yang meminta pertolongan evakuasi karena terjebak banjir setinggi dua meter di mushala pesantren, sehingga ia terus membangun koordinasi dengan berbagai pihak.
"Meskipun pada saat itu hampir seluruh wilayah terdampak banjir dan situasi dalam keadaan panik, saya tetap berusaha melakukan koordinasi demi memperoleh bantuan sarana evakuasi," ujarnya.
Lalu, sekitar pukul 02.10 WIB, satu unit perahu karet LCR (Landing Craft rubber) milik BPBD Kabupaten Aceh Utara berhasil tiba di Desa Gle Dagang. Selanjutnya, ia bersama empat personel BPBD langsung menuju Desa Blang Reuling untuk melaksanakan evakuasi.
"Pada pukul 02.40 WIB saya bersama tim BPBD berhasil mengevakuasi kurang lebih 200 orang masyarakat di Desa Blang Reuling. Namun, pada pukul 05.40 WIB tersebut kehabisan bahan bakar sehingga proses evakuasi terhenti," katanya.
Setelah itu, lanjut pria kelahiran 1987 ini, ia bersama warga bernama M Nazir melanjutkan upaya evakuasi dengan berjalan kaki dan menggunakan perlengkapan terbatas tanpa perahu karet.
Terakhir, bersama tim BNPB dan warga, mereka berjalan kembali untuk mengevakuasi guru dan sejumlah santri yang sempat meminta tolong kepada dirinya via telepon sebelumnya.
Saat hendak dievakuasi, mereka ternyata sudah berdiri di atas lemari yang mengapung, dengan posisi kepala hampir menyentuh atap beton karena banjir terlalu tinggi.
"Jika terlambat sekitar 15–30 menit saja, kemungkinan mereka tidak selamat. Proses evakuasi itu kami lakukan dengan berenang dan menyelam. Alhamdulillah mereka berhasil diselamatkan sekitar pukul 06.00 pagi," jelasnya.
Putra asli Aceh Utara ini bersyukur, upaya pertolongan dari malam hingga pagi hari itu berhasil mengevakuasi sekitar 200 lebih warga di sana. Rata-rata, mereka adalah anak-anak dan lansia, karena itu menjadi prioritas.
Halaman Selanjutnya: Maulizar Terseret Arus
Editor : Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026