Banda Aceh (ANTARA) - Wakil Rektor I Unsyiah Prof Marwan menyatakan nilam Aceh memiliki potensi ekonomi yang sangat besar untuk dikembangkan karena komoditas tersebut memiliki beberapa keunikan.

"Nilam Aceh khususnya yang ditanam di Aceh Jaya telah menjadi perbincangan nasional baik di Kemenristekdikti ataupun Bappenas, karena nilam Aceh memiliki beberapa keunikan," katanya di sela-sela membuka Focus Discussion Group (FGD) yang digelar Atsiri Research Center (ARC) di Unsyiah, Rabu.

Ia menjelaskan ada beberapa keunikan nilam Aceh diantaranya kadar patchouli oil yang bisa di atas 30 persen, jumlah minyak yang dihasilkan dalam sekali penyulingan atau rendemen pada nilam Aceh bisa mencapai tiga persen

Menurut dia potensi tersebut perlu dilakukan pengolahan lebih lanjut sehingga akan memberikan nilai tambah yang lebih besar, yang pada akhirnya bisa mendorong kesejahteraan petani nilam Aceh.

"Kami berharap diskusi ini bisa menghasilkan berbagai terobosan dan juga masukan untuk pengembangan nilam Aceh," katanya.

Ketua ARC Unsyiah Dr. Syaifullah Muhammad menjelaskan FGD tersebut membahas beberapa hal penting yaitu tentang model bisnis produk atsiri, model bisnis klaster inovasi yang melibatkan Unsyiah, Pemerintah Aceh, Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya, Swasta dan masyarakat serta membahas model bisnis sains and techno park (STP) nilam.

Syaifullah menjelaskan, ARC Unsyiah pada tahun 2019 telah ditetapkan sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) Nilam oleh Kemenristekdikti.

Pihaknya menilai kegiatan tersebut sangat penting agar produk-produk nilam hasil binaan ARC selama ini bisa dipasarkan dengan baik.

Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Jaya, Mustafa mengatakan pihaknya telah bekerja sama dengan beberapa pihak untuk mengembangkan minyak nilam termasuk dengan ARC Unsyiah.

Ada pun luas tanaman nilam di Aceh Jaya sejak tahun 2013 - 2018 telah mencapai 238,5 hektare dengan jumlah produksi sebanyak 37,8 ton minyak nilam per tahun, dengan tingkat produktivitas 166 Kg per hektare.



Pewarta: M Ifdhal
Uploader : Salahuddin Wahid

COPYRIGHT © ANTARA 2026