Polisi: Truk hauling batu bara terbalik di Aceh Barat akibat pecah ban
- 15 Mei 2026 23:37
Siswa berkebutuhan khusus melakukan simulasi penanganan tersedak menggunakan alat peraga di SLB Negeri Banda Aceh, Aceh, Sabtu (18/4/2026). Kegiatan yang diinisiasi oleh Center for Indonesian Medical Studentsâ Activities (CIMSA) Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala tersebut diikuti 14 siswa, terdiri atas 11 siswa tuli dan tiga siswa autisme, dengan materi penanganan kondisi darurat seperti mimisan, tersedak, dan luka ringan, sebagai upaya peningkatan pemahaman dasar kesehatan sekaligus mendukung implementasi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas terkait pemenuhan hak atas pendidikan inklusif, akses informasi, serta akomodasi yang layak. ANTARA FOTO/Akramul Muslim
Siswa berkebutuhan khusus mengikuti kegiatan bernyanyi bersama menggunakan bahasa isyarat di SLB Negeri Banda Aceh, Aceh, Sabtu (18/4/2026). Kegiatan yang diinisiasi oleh Center for Indonesian Medical Studentsâ Activities (CIMSA) Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala tersebut diikuti 14 siswa, terdiri atas 11 siswa tuli dan tiga siswa autisme, dengan materi penanganan kondisi darurat seperti mimisan, tersedak, dan luka ringan, sebagai upaya peningkatan pemahaman dasar kesehatan sekaligus mendukung implementasi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas terkait pemenuhan hak atas pendidikan inklusif, akses informasi, serta akomodasi yang layak. ANTARA FOTO/Akramul Muslim
Mahasiswa kedokteran Universitas Syiah Kuala memberikan edukasi penanganan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) kepada siswa berkebutuhan khusus di SLB Negeri Banda Aceh, Aceh, Sabtu (18/4/2026). Kegiatan yang diinisiasi oleh Center for Indonesian Medical Studentsâ Activities (CIMSA) Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala tersebut diikuti 14 siswa, terdiri atas 11 siswa tuli dan tiga siswa autisme, dengan materi penanganan kondisi darurat seperti mimisan, tersedak, dan luka ringan, sebagai upaya peningkatan pemahaman dasar kesehatan sekaligus mendukung implementasi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas terkait pemenuhan hak atas pendidikan inklusif, akses informasi, serta akomodasi yang layak. ANTARA FOTO/Akramul Muslim
Mahasiswa kedokteran Universitas Syiah Kuala memperagakan penanganan mimisan kepada siswa berkebutuhan khusus di SLB Negeri Banda Aceh, Aceh, Sabtu (18/4/2026). Kegiatan yang diinisiasi oleh Center for Indonesian Medical Studentsâ Activities (CIMSA) Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala tersebut diikuti 14 siswa, terdiri atas 11 siswa tuli dan tiga siswa autisme, dengan materi penanganan kondisi darurat seperti mimisan, tersedak, dan luka ringan, sebagai upaya peningkatan pemahaman dasar kesehatan sekaligus mendukung implementasi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas terkait pemenuhan hak atas pendidikan inklusif, akses informasi, serta akomodasi yang layak. ANTARA FOTO/Akramul Muslim
Mahasiswa kedokteran Universitas Syiah Kuala memberikan edukasi penanganan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) kepada siswa berkebutuhan khusus di SLB Negeri Banda Aceh, Aceh, Sabtu (18/4/2026). Kegiatan yang diinisiasi oleh Center for Indonesian Medical Studentsâ Activities (CIMSA) Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala tersebut diikuti 14 siswa, terdiri atas 11 siswa tuli dan tiga siswa autisme, dengan materi penanganan kondisi darurat seperti mimisan, tersedak, dan luka ringan, sebagai upaya peningkatan pemahaman dasar kesehatan sekaligus mendukung implementasi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas terkait pemenuhan hak atas pendidikan inklusif, akses informasi, serta akomodasi yang layak. ANTARA FOTO/Akramul Muslim
Mahasiswa kedokteran Universitas Syiah Kuala memberikan edukasi penanganan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) kepada siswa berkebutuhan khusus di SLB Negeri Banda Aceh, Aceh, Sabtu (18/4/2026). Kegiatan yang diinisiasi oleh Center for Indonesian Medical Studentsâ Activities (CIMSA) Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala tersebut diikuti 14 siswa, terdiri atas 11 siswa tuli dan tiga siswa autisme, dengan materi penanganan kondisi darurat seperti mimisan, tersedak, dan luka ringan, sebagai upaya peningkatan pemahaman dasar kesehatan sekaligus mendukung implementasi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas terkait pemenuhan hak atas pendidikan inklusif, akses informasi, serta akomodasi yang layak. ANTARA FOTO/Akramul Muslim