Perum Bulog Subdivisi Regional Lhokseumawe, Aceh, menyatakan gabah kering panen dan beras petani pada masa panen awal 2022 diserap pihak swasta. 

"Hingga Mei ini, kami belum dapat menyerap gabah dan beras petani. Petani lebih memilih menjual ke swasta karena harganya yang lebih tinggi," kata Kepala Bulog Subdivisi Regional (Subdivre) Lhokseumawe Mufti di Lhokseumawe, Senin. 

Menurut Mufti, tidak adanya serapan beras dilakukan Bulog pada periode tersebut lantaran harga pembelian pemerintah (HPP) yang sudah ditetapkan sebesar Rp8.300 per kilogram. Sementara, harga beli swasta mencapai Rp8.800 per kilogram.

"Harga yang ditetapkan pemerintah lebih rendah dibandingkan harga yang diberikan oleh swasta, sehingga para petani lebih memilih menjual ke swasta," kata Mufti.

Mufti menyebutkan Bulog Lhokseumawe menargetkan dapat penyerapan 700 ton gabah atau beras petani pada 2022. Pihaknya optimis target tersebut bisa terpenuhi.

"Meskipun sampai saat ini belum ada yang terserap, namun kami terus berusaha seoptimal mungkin untuk merealisasikan target tersebut," kata Mufti.

Seperti pada 2021, Bulog Lhokseumawe mampu menyerap 900 ton gabah dan beras petani. Sementara, target yang ditetapkan mencapai 200 ton, kata Mufti menyebutkan.

"Kondisi ini juga tidak mempengaruhi persediaan beras yang ada Bulog. Jika persediaan beras mulai menipis, maka akan dapat penambahan dari luar Aceh," kata Mufti.
 

Pewarta: Dedy Syahputra

Editor : M.Haris Setiady Agus


COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2022