Dinas Pangan Aceh memastikan ketersediaan komoditas pangan di daerahnya masih tercukupi sehingga warga tidak perlu khawatir akan kelangkaan barang, meski beberapa harga di antaranya melonjak.

"Secara umum ketersediaan komoditas strategis saat ini cukup, memadai, meskipun beberapa komoditi harganya tinggi," kata Kepala Dinas Pangan Aceh melalui Kepala Bidang Kesediaan Pangan Badriah Hasballah di Banda Aceh, Rabu (29/6).

Ada 11 komoditas strategis nasional seperti beras, jagung, bawang merah, bawang putih, cabai merah, cabai rawit, daging sapi/kerbau, daging ayam, telur ayam, gula pasir, dan minyak goreng.

Berdasarkan data yang dihimpun dari 23 kabupaten/kota di Aceh, kata Badriah, stok pangan strategis tersebut masih aman di setiap daerah, meski beberapa di antaranya terjual di pasar dengan harga tinggi, salah satunya seperti cabai merah.

"Hari ini harga cabai merah di pasar Rp105 ribu per kilogram, namun ketersediaan cabai di pasar masih tercukupi," katanya.

Sama hal dengan bawang merah, kata dia, harga di pasar antara Rp60-65 ribu per kilogram, minyak goreng Rp16 ribu per liter, gula pasir Rp16 ribu per kilogram dan telur ayam Rp25 ribu per kilogram.

Tapi semua komoditas ini stoknya aman. Ini contoh kita ambil pasar di Banda Aceh saja, rata-rata harganya tidak jauh beda dengan daerah lain. Jadi tidak ada harga yang naik secara signifikan, katanya.

Biasanya, Badriah menjelaskan, tinggi harga komoditas pangan terjadi karena momentum tertentu, seperti hari besar keagamaan yang membuat lonjakan harga tidak dapat dihindari.

Sama halnya dengan sekarang, harga beberapa bahan pokok pangan tinggi karena menjelang Hari Raya Idul Adha 1443 Hijriah.

Di samping itu, harga tinggi juga bisa disebabkan karena stok pangan yang menipis. Informasi dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, lanjut dia, komoditi pangan Aceh saat ini memang mengalami penurunan angka produksi, namun tidak begitu signifikan.

"Penyebabnya bisa macam-macam, bisa karena faktor cuaca seperti kekeringan atau angin kencang, dan juga karena para petani kurang mengikuti arahan penyuluh terkait siklus tanam," katanya.

Contoh seperti cabai merah, kata dia, siklus tanam yang tak menentu juga dapat membuat kelangkaan stok. Mestinya, petani mengikuti arahan penyuluh agar paham tentang siklus tanam sehingga stok dan harga cabai bisa tetap terjaga.

Jadi kapan waktu angka produksi perlu ditingkatkan maka secara otomatis jadwal tanam juga harus disesuaikan, katanya.

Pewarta: Khalis Surry

Editor : Heru Dwi Suryatmojo


COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2022