Masyarakat korban banjir bandang di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh hingga saat ini belum menikmati sarana penerangan listrik sejak kawasan ini dilanda banjir pada akhir November 2025 lalu.
“Tidak hanya pascabanjir, memasuki hari ke-17 bulan suci Ramadhan, kami bersama masyarakat makan sahur dan berbuka puasa dalam kondisi gelap. Hanya penerangan seadanya yang ada,” kata Samsuardi, warga Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Aceh kepada ANTARA, Jumat malam.
Ia mengatakan hingga saat ini, ratusan masyarakat Beutong Ateuh Banggalang, Nagan Raya yang mengungsi di tenda darurat, terpaksa berbuka puasa dan sahur menggunakan lilin serta penerangan tradisional atau lampu panyet (lampu yang di nyalakan menggunakan api).
Samsuardi mengatakan, penerangan merupakan sarana yang sangat penting di bulan suci Ramadhan, apalagi saat berbuka dan makan sahur. Padahal sarana penerangan sangat dibutuhkan masyarakat untuk menjalankan ibadah dengan khusyuk.
Baca: DPR RI minta pemerintah normalisasi sungai Beutong Ateuh Nagan Raya
"Coba di bayangkan, gimana nasib masyarakat berbuka dan makan sahur dalam gelap gulita di tenda pengungsian, apalagi masyarakat yang tinggal jaraknya jauh dengan tetangga," sambungnya.
Ia mengakul sudah hampir empat bulan pascabencana banjir bandang melanda Beutong Ateuh Nagan Raya, namun hingga kini masih banyak masyarakat yang tinggal di tenda dalam kondisi tanpa listrik.
Oleh karena itu, ia berharap pemerintah pusat dan daerah segera mengatasi persoalan tersebut, sehingga korban bencana tidak terus menerus larut dalam kegelapan tanpa sarana listrik, termasuk di bulan suci Ramadhan.
Baca: Sempat terputus, Lintas Nagan Raya-Aceh Tengah kembali lancar
Editor : M.Haris Setiady Agus
COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2026