Banda Aceh (ANTARA) - Satuan Tugas Percepatan Pemulihan Pascabencana (PRR) menyatakan bahwa progres normalisasi sungai di Aceh baru pada tahap untuk mitigasi atau mencegah banjir berulang sembari menunggu perbaikan permanen setelah pengesahan rencana induk.

"Penanganan sungai belum konstruksi permanen. Dan saat ini masih upaya mitigasi agar ketika hujan atau air naik lagi di sungai tidak terus menerus masuk pemukiman warga," kata Kepala Posko Wilayah Satgas PRR, Safrizal ZA, di Aceh Besar, Selasa.

Pernyataan itu disampaikan Safrizal ZA dalam kegiatan media gathering terkait laporan perkembangan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana alam Aceh, di aula The Padee, Aceh Besar.

Dalam pemaparannya, Safrizal menjelaskan, progres normalisasi sungai di bawah kewenangan pusat di Aceh masih 54 persen, atau 13 dari 24 sungai terdampak.

Sedangkan untuk upaya normalisasi sungai di bawah kewenangan daerah baru mencapai 29 persen atau dua dari tujuh sungai terdampak banjir.

"Ini yang paling berat kondisi sungai kita. Normalisasi sungai baru 54 persen, ini masih jauh sekali. Tetapi terus ditangani," ujarnya.

Dirinya menjelaskan, untuk desain pembangunan atau perbaikan sungai secara permanen nantinya dilaksanakan setelah rencana induk percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana disahkan oleh Presiden.

"Rencana induk sudah final, tinggal koreksi sedikit lagi, kita berharap Keppres rencana induk bisa segera diajukan kepada pak Presiden, sehingga rekonstruksi permanen bisa segera dilakukan," katanya.

Safrizal juga menuturkan, debit air sungai di Aceh sangat tinggi mencapai 400 mili, padahal normalnya hanya 10 mili. Karena itu, penanganannya juga dirancang dalam rencana induk.

"Nanti ada peta wilayah merah, mana wilayah rehabilitasi, DAS diperbaiki. Kementerian PU juga terus bekerja lokasi mana yang boleh digali kembali dan mana yang tidak boleh," ujarnya.

Tak hanya itu, lanjut dia, nantinya juga direncanakan untuk pembangunan sabo dam (bangunan pengendali) karena sebelumnya tidak ada, sehingga nantinya debit air sungai di Aceh bisa diblok dan diatur, dan tidak sekali turun airnya ke hilir.

"Nanti mungkin nanti akan ada sabo dam, kolam retensi (pengendali banjir), semoga ini bisa mengatur kembali air sungai di Aceh," demikian Safrizal ZA.
 



Pewarta: Rahmat Fajri
Editor : M Ifdhal

COPYRIGHT © ANTARA 2026