"Pemerintah dan semua pihak harus memikirkan untuk menjadikan Aceh sebagai benteng terdepan dalam ketahan pangan menghadapi AFTA 2015 yang hanya tinggal menghitung hari, apalagi letak Aceh sangat strategis," katanya di Banda Aceh, Jumat.
Didik yang sejak 2008 menggeluti bisnis bidang pertanian organik khususnya pupuk di Jakarta itu datang ke Aceh atas undangan mengajar ilmu pengetahuan bidang pertanian khusus organik yang diikuti sejumlah peserta dari 23 kabupaten/kota di Aceh di Kampus UPTB Balai Pendidkan dan Pelatihan Pertanian Saree, Kabupaten Aceh Besar.
Didik yang baru pertama kali ke Aceh itu mengatakan, bumi Aceh sangat subur dan cukup menjajikan di sektor riil pertanian, perkebuhnan, peternakan dan perikanan, sehingga berpotensi untuk dikembangkan secara menyeluruh.
Dikatakan, alam Aceh ternyata punya prospek cukup cerah di sektor pertanian dan ini menjajikan. Pada bagian lain, Didik juga menyampaikan, tren baru masyarakat terkini dalam memilih makanan tidak hanya penting untuk mengenyangkan perut akan tetapi mereka sudah mulai sangat memperhatikan dampak bagi kesehatan, hal ini ikut dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan taraf ekonomi yang semakin membaik.
Pangan organik merupakan pilihan untuk memenuhi kebutuhan, selain rasa lebih lezat juga menyehatkan, tetapi ketersediaan produk pangan organik tersebut sangat terbatas di pasaran.
Hal ini merupakan peluang sangat besar bagi petani terutama di Aceh yang memiliki potensi alam sangat baik untuk petanian ditambah letak yang strategis berdekatan tiga negara tetangga Malaysia, Thailand dan Singapura, terang Didik.
Didik yang merupakan Direktur Fumure Indonesia yang bergerak di bidang pembuatan pupuk organik sudah berjalan hingga 19 propinsi dalam kapasitasnya sebagai pemerhati pertanian organik sekaligus menyumbangkan ilmunya dalam bidang organik khusus pupuk.
Editor : Antara Aceh
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.