Banda Aceh, 22/1 (Antara) - Pengamat lingkungan hidup di Aceh TM Zulfikar menilai eksploitasi sumber daya alam pesisir dan kelautan di provinsi itu belum ramah lingkungan.

"Banyak praktik eksploitasi sumber daya alam pesisir maupun kelautan tidak ramah lingkungan, karena dilakukan dengan cara merusak," kata TM Zulfikar di Banda Aceh, Kamis.

Dosen pada Universitas Serambi Mekah Banda Aceh itu mencontohkan eksploitasi sumber daya alam yang tidak ramah lingkungan. Seperti pengeboman ikan, menjaring ikan dengan menggunakan pukat harimau, pengerukan yang mengakibatkan rusaknya terumbu karang, dan sebagainya.

Menurut dia, jika praktik merusak ini dilakukan terus menerus, maka kerusakan pesisir tidak terhindarkan. Butuh waktu lama untuk merehabilitasinya.

"Jika kerusakan terjadi, yang rugi adalah masyarakat pesisir sendiri. Sumber daya alam yang seharusnya berkesinambungan, tidak bisa lagi menjadi sumber ekonomi masyarakat pesisir," kata dia.

Sumber daya alam pesisir dan laut Aceh, kata dia, sangat melimpah ruah. Luas laut di Aceh yang masuk wilayah 18 kabupaten/kota mencapai 74.798 kilometer persegi atau seluas 7,4 juta hektare.

Sedangkan panjang garis pantai Aceh mencapai 2.666 kilometer dengan gugusan kepulauan sebanyak 180 pulau dan 44 pulau berpenghuni dan 136 pulau tidak berpenghuni.

"Aceh juga memiliki beberapa ekosistem pesisir dan laut. Luas terumbu karangnya mencapai 15 ribu hektare. Sedangkan hutan mangrove mencapai 30,9 ribu hektare," ungkap TM Zulfikar.

Mantan Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh ini menyebutkan sumber daya alam pesisir dan laut yang besar tersebut harus dijaga kesinambungannya.

"Ironinya, praktik-praktik tidak ramah lingkungan dan merusak ekosistem masih terjadi saat eksploitasi sumber daya alam pesisir dan kelautan. Praktik ini harus dicegah, sebelum terjadi kehancuran sumber daya alam," kata dia.

TM Zulfikar yang juga Wakil Ketua Aceh Centre, sebuah lembaga nonpemerintah, mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan Jaringan Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (KuALA) dan Greenpeace Indonesia, lembaga lingkungan internasional, akan menggelar diskusi mencari format menyelamatkan sumber daya alam pesisir dan laut Aceh.

"Diskusi direncanakan Jumat (23/1). Dari diskusi ini diharapkan banyak masukan mengenai pesisir dan laut Aceh beserta masalahnya. Serta bagaimana solusinya agar pengelolaan sumber daya alam tersebut berkesinambungan," kata TM Zulfikar.


Uploader : Salahuddin Wahid

COPYRIGHT © ANTARA 2026