Banda Aceh, 23/1 (Antaraaceh) - Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Aceh Barat mulai menyusun strategi menyasar masyarakat dalam 322 desa untuk menekan tingginya aktivitas peredaran narkoba di wilayah itu.

"Desa-desa yang kami sasar sudah teridentifikasi rawan peredaran narkoba. Dalam program kerja 2015 ini, mungkin kami awali kawasan pedalaman," kata Koordinator Satgas Reprensif BNK Aceh Barat Arhammar Ridha di Meulaboh, Jumat.

Kata dia, selama 2014 BNK Aceh Barat sudah menangani 45 kasus narkoba, 16 orang dalam kasus ganja dan 29 orang dalam kasus narkotika jenis sabu-sabu. Karena itu, kawasan Aceh Barat dinyatakan "darurat narkoba" karena mengalami peningkatan secara signifikan.

Dalam bekerja, BNK Aceh Barat bekerja sama dengan aparat kepolisian. Peran mereka selama ini hanya sebatas memberikan rehabilitasi, sosialisasi serta pembinaan bagi masyarakat yang tertangkap akibat mengonsumsi barang haram itu.

Selain itu, upaya pendekatan selama ini yang dilakukan mendatangi sekolah mulai dari jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) sampai SMA, karena kalangan remaja mendominasi kasus narkoba di wilayah itu.

"Untuk melanjutkan sosialisasi bahaya narkoba di sekolah belum ada kepastian karena program ini masih kita usulkan, selama 2014 yang sudah kami lakukan upaya ini sangat responsif bagi remaja," imbuh dia.

Lebih lanjut dikatakan, mengenai kebijakan pemerintah terkait terpidana mati kasus narkoba pada prinsipnya BNK di setiap daerah sangat mendukung karena hal tersebut sangat membantu dalam memutuskan mata rantai peredaran narkoba.

Dirinya menyatakan dalam hal menekan peningkatan kasus narkoba harus ada sinergisitas masyarakat dengan BNK ataupun aparat penegak hukum karena akan sulit memberantas peredaran barang haram tersebut apabila tidak ada kerja sama yang baik.

Sosialisasi serta rehabilitasi sangat dibutuhkan, karena dominan kasus narkoba yang korbannya adalah usia remaja karena faktor "broken Home", ikut-ikutan dan rasa ingin tahu mengikuti tren remaja, sementara kesempatan ini dimanfaatkan oleh para kurir.

"Hampir setiap hari kita menerima 3-4 orang yang melapor meminta pendampingan, kendala di daerah saat ini belum ada panti rehabilitasi karenanya selama ini semua yang direhabilitasi di RSUD Cut Nyak Dhien," katanya menambahkan.


Uploader : Salahuddin Wahid

COPYRIGHT © ANTARA 2026