Meulaboh (ANTARA Aceh) - Dua nelayan tradisional Kamaruzzaman (56) dan anaknya Aan Anzalna (21), yang sempat ditahan di India selama satu tahun, tiba di Desa Blang Beurandang, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat.

"Kami bebas, hukuman kami dikurangi berkat peran semua pihak terutama adalah pemerintah Indonesia dari KBRI untuk New Delhi yang selalu memantau kami selama berada didalam tahanan Negara India,"kata Kamaruzzaman di Meulaboh Selasa.

Kepulangan dua nelayan asal Desa Padang Seurahet sekitar pukul 02.30 WIB dini hari disambut isak tangis oleh keluarga, kemudian siangnya dilanjutkan dengan ritual "peusijuk" (tepung tawar) oleh orang tua kampung, acara ini juga turut disaksikan pejabat pemerintah Aceh dan Aceh Barat.

Ditemui di kediamannya, dia menceritakan selama menjalani tahanan di India diperlakukan layaknya warga binaan sama seperti warga negara lain yang juga tertangkap karena memasuki perairan laut Andaman, India, tidak ada kekerasan dan diberi makan dua kali dalam sehari.

Hanya saja kata dia, uang tunai senilai Rp700 ribu yang dibawa dari daratan Aceh Barat saat melaut satu tahun lalu tidak dikembalikan, demikian juga satu unit kapal berkapasitas 18 Grosstone (GT) miliknya harus ditebus seharga Rp150 juta mata uang Indonesia.

Kamaruzzaman menyebutkan padahal saat ke luar dari penjara dirinya sangat berharap uang dan kapalnya dikembalikan, seperti tahanan di Indonesia apabila ada barang seorang tahanan dapat diambil saat ke luar dari penjara.

"Kalau hasil tangkapan kami waktu itu sekitar 500 kilogram ada, kalau boat seharga Rp80 juta disini. Kami pikir begitu keluar dikembalikan lagi uang dan boat ternyata harus ditebus dengan mata uang mereka bila dengan rupiah sekitar Rp150 juta,"katanya.

Nelayan asal Gampong Padang Seurehet ini menjelaskan, kejadian menerpa mereka dianggap sebuah musibah karena sudah 50 tahun dirinya menjadi seorang nelayan baru kali ini ditangkap oleh negara asing karena tidak sengaja masuk keperairan laut Andaman.

Kamaruzzaman menceritakan, dia bersama dua anaknya berasal dari keluarga tidak mampu sehingga satu keluarga berprofesi sebagai nelayan, saat melaut kapal digunakan mengalami rusak pada mesin sehingga diombang ambing di tengah laut selama lima hari dan tanpa diketahui sudah masuk keperairan laut Negara India.

Begitu kapal mereka berhasil diperbaiki, dalam perjalanan pulang mereka dikejar oleh petugas patroli laut Negara India, setelah dikejutkan dengan tiga kali tembakan senjata di tengah laut lepas mereka segera berhenti.

"Kami langsung digiring oleh polisi India dibawa sampai ke pinggir Pantai Andaman, begitu sampai disana kami dibawa ke kantor polisi. Seingat saya keberadaan kami baru diketahui saat pemilu presiden Indonesia karena ada ibu-ibu datang mencari Warga Negara Indonesia di tahanan India untuk nyoblos," katanya.



Pewarta: Pewarta : Anwar
Uploader : Salahuddin Wahid

COPYRIGHT © ANTARA 2026