Meulaboh (ANTARA Aceh)- Anggota legislatif di Kabupaten Aceh Barat Kamarudin meminta produk baru PT Pertamina (Persero) Pertalite segera diluncurkan untuk mengetahui tingkat kebutuhan masyarakat serta dampaknya bagi perkembangan industri dan kendaraan.
"Inikan belum diluncurkan, jadi kita belum dapat melihat realisasinya seperti apa ketergantungan masyarakat terhadap produk baru ini, saya pikir memang lebih baik subsidi itu dihapuskan karena selama ini program itu tidak sepenuhnya dinikmati masyarakat miskin," katanya di Meulaboh, Selasa.
PT Pertamina meluncurkan produk bahan bakar minyak baru diberi nama Pertalite sebagai tahap transisi penghapusan premium subsidi, perbandingan bensin baru ini memiliki tingkat RON sekitar 90 sementara premium yang beredar selama ini memiliki RON 88.
Dia menyatakan, Pertalite merupakan BBM dengan kadar oktan diantara premium dan pertamax, selama produk baru tersebut tidak beresiko bagi kendaraan mesin dengan harga terjangkau pastinya masyarakat akan menyambut baik program pemerintah tersebut.
Kamarudin yang juga pengurus Kamar Dagang dan Industri (kadin) Aceh ini menyampaikan, kondisi persaingan bisnis dan pengusaha jasa selama ini masih terbatas karena persoalan harga BBM yang tidak menentu ditambah lagi sering terjadi keterbatasan stok di tengah masyarakat.
Dicontohkan seperti kebutuhan pada sebuah usaha penyedia jasa kontruski pembangunan didaerah, kegiatan tersebut sangat ketergantungan dengan tersedianya BBM sebagai sumber energi, kerja mereka juga sering bermasalah di daerah apabila terjadi kelangkaan sumber energi.
"Namun perlu dipertimbangkan dan dikaji lagi terkait produk ini apakah beresiko bagi mesin kendaraan, kemudian terpenting lagi untuk masyarakat harus ada sosialisasi terlebih awal sebelum peluncuran," imbuhnya.
Lebih lanjut politisi Partai Golkar ini menyampaikan, persoalan harus mendatangkan bahan impor yang diperkirakan semakin tinggi itu adalah sebuah resiko, selama hal itu tidak membuat pemerintah Indonesia rugi maka menurut dia tidak soal.
Dia juga menyarakankan PT Pertamina untuk lebih berbenah dalam mengoptimalkan prasarana kilang minyak sehingga oktan dapat lebih tinggi, dengan demikian ketergantungan impor dapat terus tertekan seiring munculnya produk baru itu.
Dengan adanya produk baru ini di Indonesia kiranya dapat menengahi tingkat ketergantungan kebutuhan masyarakat terhadap bahan bakar, meskipun harga Pertalite ini berada diatas harga Premium dan dibawah harga Pertamax.
"Masyarakat Aceh ada yang sudah punya kendaraan 2-5 unit per keluarga, jadinya bila diukur tingkat kebutuhan BBM dengan ketersediaan stok dilapangan selalu menjadi kendala semua kegiatan, bila sudah tidak lagi subsidi tentunya stoknya tidak akan ada pembatasan," katanya menambahkan.
"Inikan belum diluncurkan, jadi kita belum dapat melihat realisasinya seperti apa ketergantungan masyarakat terhadap produk baru ini, saya pikir memang lebih baik subsidi itu dihapuskan karena selama ini program itu tidak sepenuhnya dinikmati masyarakat miskin," katanya di Meulaboh, Selasa.
PT Pertamina meluncurkan produk bahan bakar minyak baru diberi nama Pertalite sebagai tahap transisi penghapusan premium subsidi, perbandingan bensin baru ini memiliki tingkat RON sekitar 90 sementara premium yang beredar selama ini memiliki RON 88.
Dia menyatakan, Pertalite merupakan BBM dengan kadar oktan diantara premium dan pertamax, selama produk baru tersebut tidak beresiko bagi kendaraan mesin dengan harga terjangkau pastinya masyarakat akan menyambut baik program pemerintah tersebut.
Kamarudin yang juga pengurus Kamar Dagang dan Industri (kadin) Aceh ini menyampaikan, kondisi persaingan bisnis dan pengusaha jasa selama ini masih terbatas karena persoalan harga BBM yang tidak menentu ditambah lagi sering terjadi keterbatasan stok di tengah masyarakat.
Dicontohkan seperti kebutuhan pada sebuah usaha penyedia jasa kontruski pembangunan didaerah, kegiatan tersebut sangat ketergantungan dengan tersedianya BBM sebagai sumber energi, kerja mereka juga sering bermasalah di daerah apabila terjadi kelangkaan sumber energi.
"Namun perlu dipertimbangkan dan dikaji lagi terkait produk ini apakah beresiko bagi mesin kendaraan, kemudian terpenting lagi untuk masyarakat harus ada sosialisasi terlebih awal sebelum peluncuran," imbuhnya.
Lebih lanjut politisi Partai Golkar ini menyampaikan, persoalan harus mendatangkan bahan impor yang diperkirakan semakin tinggi itu adalah sebuah resiko, selama hal itu tidak membuat pemerintah Indonesia rugi maka menurut dia tidak soal.
Dia juga menyarakankan PT Pertamina untuk lebih berbenah dalam mengoptimalkan prasarana kilang minyak sehingga oktan dapat lebih tinggi, dengan demikian ketergantungan impor dapat terus tertekan seiring munculnya produk baru itu.
Dengan adanya produk baru ini di Indonesia kiranya dapat menengahi tingkat ketergantungan kebutuhan masyarakat terhadap bahan bakar, meskipun harga Pertalite ini berada diatas harga Premium dan dibawah harga Pertamax.
"Masyarakat Aceh ada yang sudah punya kendaraan 2-5 unit per keluarga, jadinya bila diukur tingkat kebutuhan BBM dengan ketersediaan stok dilapangan selalu menjadi kendala semua kegiatan, bila sudah tidak lagi subsidi tentunya stoknya tidak akan ada pembatasan," katanya menambahkan.
Pewarta: Pewarta : AnwarUploader : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.