Banda Aceh (ANTARA Aceh) - Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea Cukai Provinsi Aceh menyatakan perairan Aceh Timur rawan penyelundupan.

"Perairan Aceh Timur rawan dan tinggi tingkat penyelundupannya. Dan ini menjadi perhatian khusus kami," kata Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea Cukai Provinsi Aceh Saipullah Nasution di Banda Aceh, Senin.

Saipullah mengatakan hal ini bisa dilihat dari penggagalan upaya penyelundupan di perairan Aceh Timur beberapa waktu lalu. Para penyeludup memasukkan barang impor seperti bawang merah dan lainnya.

Penyeludupan, kata dia, dilakukan kapal berukuran kecil. Kapal kecil tersebut langsung merapat ke dermaga kecil yang banyak di kawasan Aceh Timur dan sekitarnya.

"Masalah penyelundupan ini tidak hanya menjadi tanggung jawab bea cukai semata. Tapi juga tanggung jawab seluruh elemen masyarakat termasuk pemerintah daerah," kata dia.

Menyangkut masalah penyelundupan gula dari kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas Sabang, Saipullah mengatakan hal itu sudah menjadi persoalan menahun yang sepertinya tidak kunjung selesai.

"Hampir setiap hari ada upaya penyeludupan gula dari Sabang. Masalah ini terjadi karena banyaknya gula yang diimpor di Sabang dan harganya murah. Sementara, gula di daratan Aceh mahal, sehingga banyak orang tertarik memasoknya ke daratan," kata dia.

Semestinya, kata dia, Badan Pengusahaan Kawasan Bebas Sabang atau BPKS, memberikan izin impor gula sesuai dengan kebutuhan masyarakat di Pulau Weh. Tidak memberikan izin yang berlebihan.

"Kami meminta BPKS memberikan izin jumlah impor gula sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kalau jumlah izin yang diberikan berlebih, tentu kelebihan itu dipasok ke daerah lain," kata Saifullah.



Pewarta: Pewarta : M Haris SA
Uploader : Salahuddin Wahid

COPYRIGHT © ANTARA 2026