Meulaboh (ANTARA Aceh) - Nelayan di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, melaksanakan ritual "kenduri laot" (kenduri laut) selama dua hari terakhir sebagai bentuk rasa syukur mendapatkan hasil tangkapan ikan yang melimpah.

Panglima Laot Lhok Padang Seurahet Anuwar, di Meulaboh, Sabtu, mengatakan, tahun ini peringatan kenduri laut dilakukan lebih meriah karena nelayan mengaku mendapat kemudahan rezeki sehingga mampu menyembelih dua ekor kerbau.

"Acara kenduri laot sudah kita laksanakan sejak hari Kamis (29/10) dan hari ini adalah terakhir kita menyerahkan santunan kepada anak yatim keluarga masyarakat nelayan dari sisa 300 anak yatim yang belum terima," katanya di sela-sela acara penyerahan santunan.

Pada kenduri laot tahun ini nelayan Aceh Barat memusatkan kegiatan di kawasan pesisir Gampong Nelayan Padang Seurahet, di masjid peningalan sisa tsunami yang dijadikan sebagai tempat berkumpulnya para nelayan.

Kegiatan tersebut dihadiri pemangku adat laot kabupaten, unsur pemerintah daerah dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) serta ratusan keluarga masyarakat nelayan, melakukan zikir dan doa bersama kemudian makan bersama di tepi pantai.

"Pada siangnya kita melakukan penyembelihan dua ekor kerbau dan dilanjutkan dengan makan bersama, kemudian malamnya diisi dengan kegiatan agama seperti zikir dan doa bersama," sebutnya.

Daging yang dihasilkan dari dua kerbau itu dibagikan kepada masyarakat miskin terutama dari keluarga nelayan, kemudian sisa dari potongan tulang-belulang dilarung ke laut bersama dengan ritual.

Pada ritual tahun sebelumnya nelayan juga melaksanakan hal serupa yakni melaksanakan zikir dan doa bersama, namun hanya membawa nasi bubur dari beras ketan untuk dilarung ke laut berjarak 1,2 mil dari pantai.

Di tengah laut nelayan melaksanakan ritual doa bersama, sebelum nasi bubur ditumpahkan ke laut, dan juga dilantunkan suara azan oleh tokoh agama yang ikut dibawa bersama para nelayan menggunakan satu kapal motor (boat).

"Selama dua hari kemarin memang nelayan tidak melaut, meskipun ada kenaikan harga ikan tapi tidak begitu tinggi karena jauh sebelum hari H nelayan dan pedagang sudah menyiapkan stok untuk masyarakat," sebutnya.

Sementara itu panglima Laot Kabupaten Aceh Barat Amiruddin, yang dikonfirmasi sebelumnya mengatakan, tulang-belulang serta isi dalam ternak sengaja dibuang ke laut untuk diberikan kepada ikan-ikan dan libur melaut selama kegiatan berlangsung memberikan waktu jeda kepada biota laut.

"Tulang-tulang, kepala dan sedikit daging ternak yang dibuang ke tengah laut bukan untuk mahkluk halus, ini yang sering salah dipersepsikan orang-orang. Semua yang kita buang ke laut untuk ikan-ikan, mereka juga mahluk hidup yang selama ini selalu kita ambil tapi hanya sekali dalam setahun kita memberi mereka makan," katanya.

Menurut dia, kanduri laot merupakan kegiatan spiritual masyarakat nelayan yang didukungan pemerintah untuk dilakukan secara nasional, karena nilai positif dari kegiatan ini adalah masyarakat bersahabat dengan biota laut dan memberikan ruang ikan-ikan beradabtasi serta membiak ke pingir pantai.

Di Provinsi Aceh ditetapkan dalam qanun enam waktu "pantang meulaot" (larangan melaut) yakni pada hari kenduri laot, setiap hari Jum'at, peringatan gempa dan Tsunami Aceh, hari kemerdekaan RI dan tiga hari lebaran Idul Fitri serta Idul Adha setiap tahunnya.



Pewarta: Pewarta : Anwar
Uploader : Salahuddin Wahid

COPYRIGHT © ANTARA 2026