Meulaboh (ANTARA Aceh) - Harga tampung pembelian biji pinang petani di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, mengalami penurunan 40 persen, yakni dari Rp14.000 menjadi Rp8.000 per kilogram.
Kepala Bidang Perdagangan pada Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan Aceh Barat Cut Titi Herawati Rahmah di Meulaboh, Selasa mengatakan, penurunan tersebut dipicu oleh rendahnya permintaan pasar terhadap bahan baku tersebut.
"Pada posisi awal Maret 2016 harga pinang mulai mengalami penurunan sampai 40 persen dan bertahan sampai minggu kedua ini, persisnya kita tidak tahu, tapi menurut agen penampung akibat permintaan pasar rendah," sebutnya.
Disampaikan melalui staf perdagangan Erma Yanti yang menguraikan data secara terperinci menjelaskan kepada wartawan, secara umum kondisi harga bahan pokok penting dan strategis pada pekan kedua Maret 2016 terjadi fluktuasi.
Selain akibat panjangnya matarantai penjualan, kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh semakin rendahnya daya serap pasar membuat harga buah pinang bulat anjlok, sementara kreativitas petani lumayan banyak memproduksi bahan baku itu.
Dia menjelaskan, pada akhir Februari 2016 harga buah pinang di tingkat masyarakat petani mengalami kenaikan sebesar 20 persen yakni dari harga Rp12.000 menjadi Rp14.000/Kg akibat permintaan pasar lumayan tinggi.
"Meski harga ini cenderung dikeluhkan masyarakat petani, tapi secara perlahan harga pinang bulat ini pernah mengalami kenaikan sebelumnya di awal tahun 2016 sebesar Rp2.000 per kilogram," sebut Erma Yanti.
Dalam laporan perkembangan harga komoditi unggulan dia menjelaskan, malahan sebagian mata barang lain ada yang mengalami kenaikan seperti emping malinjo dari Rp55.000 menjadi Rp60.000/Kg sampai pekan kedua Maret 2016.
Sementara untuk coklat justru mengalami penurunan dari harga posisi Januari Rp20.000 turun menjadi Rp18.000/Kg, hingga saat ini harga tersebut masih bertahan sampai posisi Maret minggu kedua 2016.
Pemkab Aceh Barat memprediksi buah pinang bulat ini akan kembali mengalami kenaikan apabila pasokan di tingkat pedagang lokal setempat sudah menipis untuk memenuhi permintaan pasar luar Aceh.
Penampung lokal cenderung menjual bahan baku dari petani dengan jumlah banyak yang dikumpulkan dalam waktu 1-2 minggu, dalam
kondisi pasokan di tingkat mereka melimpah maka harga buah pinang bisa anjlok.
"Buah pinang dan karet merupakan komoditi yang keterkaitan dengan pasar dunia, artinya penampung lolak disini membeli dari petani kemudian menjual kepenampung lebih besar, kalau jumlahnya sudah banyak baru dijual kepenampung luar," jelasnya.
Kepala Bidang Perdagangan pada Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan Aceh Barat Cut Titi Herawati Rahmah di Meulaboh, Selasa mengatakan, penurunan tersebut dipicu oleh rendahnya permintaan pasar terhadap bahan baku tersebut.
"Pada posisi awal Maret 2016 harga pinang mulai mengalami penurunan sampai 40 persen dan bertahan sampai minggu kedua ini, persisnya kita tidak tahu, tapi menurut agen penampung akibat permintaan pasar rendah," sebutnya.
Disampaikan melalui staf perdagangan Erma Yanti yang menguraikan data secara terperinci menjelaskan kepada wartawan, secara umum kondisi harga bahan pokok penting dan strategis pada pekan kedua Maret 2016 terjadi fluktuasi.
Selain akibat panjangnya matarantai penjualan, kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh semakin rendahnya daya serap pasar membuat harga buah pinang bulat anjlok, sementara kreativitas petani lumayan banyak memproduksi bahan baku itu.
Dia menjelaskan, pada akhir Februari 2016 harga buah pinang di tingkat masyarakat petani mengalami kenaikan sebesar 20 persen yakni dari harga Rp12.000 menjadi Rp14.000/Kg akibat permintaan pasar lumayan tinggi.
"Meski harga ini cenderung dikeluhkan masyarakat petani, tapi secara perlahan harga pinang bulat ini pernah mengalami kenaikan sebelumnya di awal tahun 2016 sebesar Rp2.000 per kilogram," sebut Erma Yanti.
Dalam laporan perkembangan harga komoditi unggulan dia menjelaskan, malahan sebagian mata barang lain ada yang mengalami kenaikan seperti emping malinjo dari Rp55.000 menjadi Rp60.000/Kg sampai pekan kedua Maret 2016.
Sementara untuk coklat justru mengalami penurunan dari harga posisi Januari Rp20.000 turun menjadi Rp18.000/Kg, hingga saat ini harga tersebut masih bertahan sampai posisi Maret minggu kedua 2016.
Pemkab Aceh Barat memprediksi buah pinang bulat ini akan kembali mengalami kenaikan apabila pasokan di tingkat pedagang lokal setempat sudah menipis untuk memenuhi permintaan pasar luar Aceh.
Penampung lokal cenderung menjual bahan baku dari petani dengan jumlah banyak yang dikumpulkan dalam waktu 1-2 minggu, dalam
kondisi pasokan di tingkat mereka melimpah maka harga buah pinang bisa anjlok.
"Buah pinang dan karet merupakan komoditi yang keterkaitan dengan pasar dunia, artinya penampung lolak disini membeli dari petani kemudian menjual kepenampung lebih besar, kalau jumlahnya sudah banyak baru dijual kepenampung luar," jelasnya.
Pewarta: Pewarta : AnwarUploader : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.