Lhokseumawe (ANTARA Aceh) - Ternak sapi di Kota Lhokseumawe, Provinsi Aceh, bebas dari penyakit berbahaya, sehingga aman untuk dikosumsi, kata pejabat setempat.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan pada Dinas Kelautan Peternakan dan Pertanian Kota Lhokseumawe Dahlina, Rabu menyatakan, kondisi kesehatan ternak sapi dan kerbau selama setahun terakhir belum ditemukan adanya penyakit berbahaya.
Ia menyebutkan, adapun jenis penyakit berbahaya yang berasal dari sapi atau kerbau tersebut antara lain, seperti Antrax, sapi ngorok dan juga penyakit mulut dan kuku.
Sementara untuk penyakit sapi bukan berbahaya seperti mencret, cacingan dan lain sebagainya ada ditemukan, namun bisa disembuhkan. katanya.
Ia menambahkan, usaha peternakan sapi di wilayah Kota Lhokseumawe belum dilakukan secara intensif, akan tetapi dipelihara secara tradisional oleh masyarakat, sedangkan jenis sapi yang dikembangkan adalah sapi Aceh (lokal).
Sementara mengenai pemasarannya, ia menyatakan, hanya tercukupi untuk kebutuhan lokal saja, sedangkan untuk kebutuhan menjelang hari-hari penting seperti, menjelang bulan Ramadhan, Idu Fitri dan Idul Adha, didatangkan dari daerah lain.
"Sebenarnya, masyarakat Aceh lebih senang mengkosumsi daging sapi lokal," kata Dahlina.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan pada Dinas Kelautan Peternakan dan Pertanian Kota Lhokseumawe Dahlina, Rabu menyatakan, kondisi kesehatan ternak sapi dan kerbau selama setahun terakhir belum ditemukan adanya penyakit berbahaya.
Ia menyebutkan, adapun jenis penyakit berbahaya yang berasal dari sapi atau kerbau tersebut antara lain, seperti Antrax, sapi ngorok dan juga penyakit mulut dan kuku.
Sementara untuk penyakit sapi bukan berbahaya seperti mencret, cacingan dan lain sebagainya ada ditemukan, namun bisa disembuhkan. katanya.
Ia menambahkan, usaha peternakan sapi di wilayah Kota Lhokseumawe belum dilakukan secara intensif, akan tetapi dipelihara secara tradisional oleh masyarakat, sedangkan jenis sapi yang dikembangkan adalah sapi Aceh (lokal).
Sementara mengenai pemasarannya, ia menyatakan, hanya tercukupi untuk kebutuhan lokal saja, sedangkan untuk kebutuhan menjelang hari-hari penting seperti, menjelang bulan Ramadhan, Idu Fitri dan Idul Adha, didatangkan dari daerah lain.
"Sebenarnya, masyarakat Aceh lebih senang mengkosumsi daging sapi lokal," kata Dahlina.
Pewarta: Pewarta : MukhlisUploader : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.