Tapaktuan (ANTARA Aceh) - Warga Kabupaten Aceh Selatan, Aceh, memanfaatkan bahan baku pangkal pohon kelapa untuk membuat perabot berupa meja dan kursi tanpa menggunakan paku.

Karlis, saat ditemui di Desa Madat, Kecamatan Samadua, Aceh Selatan, Minggu menyatakan, perabot itu dirancang dengan konstruksi menyatu antara bagian satu dengan yang lainnya, sehingga sangat kokoh dan diperkirakan mampu bertahan selama puluhan tahun.

Produk kerajinan tangan yang tergolong langka dan unik tersebut diolah Karlis sudah sekitar 26 tahun. Ia membuat meja kursi itu dengan peralatan seadanya.

Karlis dengan didampingi istri dan ke empat anaknya menuturkan, dia hanya butuh waktu selama satu minggu untuk membuat satu buah kursi menggunakan pangkal pohon kelapa berukuran 80x60 Cm.

"Yang menyita waktu lumayan lama adalah saat proses pahat, melobangi serta mengukir pangkal batang pohon kelapa, karena seluruh pekerjaannya kami lakukan dengan tangan," ungkapnya.

Dia menjelaskan, pangkal pohon kelapa yang telah dipotong-potong, dipahat lalu dilobangi. Setelah berbentuk kursi ataupun meja, kemudian dibagian depannya dibuat ukiran bermotif Aceh.

Agar terlihat bagus, selanjutnya digosok menggunakan kertas gosok sampai terasa licin dan tampak mengkilap. Terakhir meja ataupun kursi tersebut dicat sesuai warna yang diinginkan konsumen.

Selain ukuran kecil, dia juga memproduksi kursi dalam ukuran besar berbentuk singgasana berukuran panjang 1 meter dan lebar 70 Cm. Untuk ukuran ini, satu kursi membutuhkan waktu paling cepat selama 15 hari. Satu buah kursi dijual seharga Rp1 juta.

"Kalau per unitnya kami jual Rp1 juta. Tapi kalau dibeli per set (empat kursi dan satu meja) harga untuk ukuran kecil sebesar Rp3 juta dan ukuran besar mencapai Rp5 juta," sebut Karlis.

Karena keterbatasan modal, sambung Karlis, pihaknya baru membuat meja dan kursi menggunakan pangkal pohon kelapa tersebut setelah ada konsumen yang mengordernya.

Sebab jika pihaknya menyimpan stok produk tersebut dalam jumlah banyak, disamping tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, juga mengalami kesulitan mendapatkan bahan baku, katanya.

"Pangkal pohon kelapa sebagai bahan baku untuk pembuatan kursi dan meja, kami beli dari masyarakat dengan harga yang lumayan mahal. Sebab selain butuh ongkos tebang, pangkal pohon kelapa juga harus digali dalam tanah untuk mendapatkan bahan baku berkualitas bagus," ujarnya.

Dari sejumlah produk yang telah dihasilkan, di antaranya selain diorder oleh konsumen dalam daerah juga ada dari luar daerah.

"Memang peminat produk ini berasal dari kalangan terbatas yakni rata-rata para pejabat dan orang kaya, karena harganya yang lumayan mahal. Sebab produk ini memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan produk kursi dan meja yang dijual biasa di toko," katanya.

Kursi dan meja dari pangkal pohon kelapa ini selain konstruksinya kokoh, juga mengeluarkan hawa dingin, sehingga sangat cocok untuk dijadikan perabot dalam rumah pribadi, tambah dia.

Mayoritas konsumen khususnya mereka yang suka barang-barang antik dan unik, yang telah membeli produk ini mengaku sangat terkesan, ucap Karlis.

Untuk pengembangan usahanya ke arah lebih besar lagi ke depan, Karlis mengharapkan ada investor atau pengusaha yang mau menanamkan modal ditempat usahanya tersebut.

Disamping investor swasta, dia juga mengharapkan kepada Pemkab Aceh Selatan dan Pemerintah Aceh serta Kementerian terkait di Jakarta, agar melirik usaha yang telah digelutinya sejak 26 tahun silam tersebut dengan cara menyuntikkan modal kerja secara maksimal.

Ia meyakini, jika perabot tersebut mampu diproduksi dalam jumlah banyak, maka produk tersebut dapat dipasarkan secara lebih luas lagi ke luar daerah bahkan ke luar negeri.

Sebab dia mengakui, sejak usaha kecil-kecilan dengan memanfaatkan perkarangan rumahnya itu dibuka sejak tahun 1990-an silam, hingga saat ini belum pernah merasakan pemberian bantuan usaha dari Pemerintah.
   


Pewarta: Pewarta : Hendrik
: Salahuddin Wahid

COPYRIGHT © ANTARA 2026