Tapaktuan (ANTARA Aceh) - DPRK Aceh Selatan mengaku prihatin dengan temuan kasus puluhan kerbau mati mendadak di Kecamatan Pasie Raja beberapa pekan terakhir dan meminta kepada Pemkab setempat segera mengambil kebijakan strategis mengatasi persoalan tersebut.
"Temuan kasus kerbau mati mendadak tersebut dikhawatirkan berdampak terhadap ketersediaan daging di daerah ini," kata anggota Komisi B DPRK Aceh Selatan, Hadi Surya kepada wartawan di Tapaktuan, Jumat.
Kasus kerbau mati mendadak yang disebabkan terjangkit virus Septicaemia Epizootica atau penyakit ngorok tersebut selain berpotensi akan menular ke kerbau lainnya juga akan mengancam ketersediaan daging di daerah itu menjelang meugang Hari Raya Idul Adha tahun 2016.
"Untuk menjamin tetap stabilnya pasokan daging meugang Hari Raya Idul Adha, pihak Dinas Pertanian dan Peternakan harus segera berkoordinasi dengan pihak Dinas Perdagangan Perindustrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah," katanya.
Selain berkoordinasi dengan Disperindagkop, Ketua Partai Gerindra Aceh Selatan ini juga meminta kepada pihak Dinas Pertanian dan Peternakan segera melaporkan temuan kasus kerbau mati mendadak yang telah menggemparkan masyarakat tersebut ke dinas terkait di jajaran Pemerintah Aceh dan Kementerian terkait di Jakarta.
"Kami menilai bahwa temuan kasus ini telah tergolong kasus besar yang harus mendapat perhatian secara serius oleh seluruh pihak terkait baik di daerah maupun pusat, sebab jika kasus ini terlambat mendapat penanganan maka dampak yang akan ditimbulkan akan cukup besar yakni disamping akan menular ke kerbau yang lain juga mengancam ketersediaan daging untuk masyarakat di daerah ini," kata Hadi.
Menurut dia, munculnya temuan kasus puluhan kerbau mati mendadak di Kecamatan Pasie Raja tidak terlepas dari bobroknya kinerja pihak Dinas Pertanian dan Peternakan.
"Jika saja dinas tersebut cepat mendeteksi munculnya gejala penyakit kemudian segera menanggulanginya dengan cara menyuntikkan obat-obatan untuk membasmi virus, maka masyarakat peternak kerbau tidak harus menanggung kerugian yang begitu besar," katanya.
Hadi Surya juga mengkritik kebijakan yang diambil Kadis Pertanian dan Peternakan Aceh Selatan, Yulizar, yang memerintahkan petugas kesehatan hewan menyuntikkan obat-obatan terhadap ratusan kerbau milik masyarakat setempat dalam radius 2 hingga 3 kilometer dari lokasi temuan kasus pertama, setelah temuan kasus kerbau mati yang mencapai puluhan ekor mencuat ke permukaan.
"Kebijakan itu jelas-jelas sudah terlambat sebab jika virus sudah terinveksi kepada kerbau lalu disuntikkan lagi vaksin maka itu sama halnya dengan menambah tumbuh kembang virus baru dalam tubuh kerbau bersangkutan. Seharusnya langkah penyuntikan vaksin atau imunisasi dilakukan jauh-jauh hari sebelum penyakit ngorok itu terjangkit dan itupun harus dilakukan secara berkala atau rutin," tegas Hadi Surya.
Jika pihak Dinas Pertanian dan Peternakan Aceh Selatan tetap melakukan langkah konyol tersebut, maka itu merupakan sebuah preseden buruk yang menimpa peternak kerbau di daerah ini, sesalnya.
Agar penanganan kasus kerbau mati mendadak lebih maksimal lagi ke depannya, Hadi Surya juga meminta kepada Bupati Aceh Selatan agar mengalokasikan anggaran yang cukup untuk dinas dimaksud termasuk mengadakan atau merekrut tenaga ahli yang mengerti atau yang konsentrasi dalam pencegahan dan pengobatan penyakit ternak.
"Harus kita akui bahwa ketersediaan tenaga ahli di bidang konsentrasi pencegahan dan pengobatan penyakit ternak di Dinas Pertanian dan Peternakan masih sangat minim. Hal ini harus mendapat perhatian serius dari Pemkab Aceh Selatan, terkait kebutuhan anggaran kami di DPRK Aceh Selatan siap memberikan dukungan maksimal," tegasnya.
Disamping itu, DPRK Aceh Selatan juga mendesak Pemkab setempat melalui dinas terkait segera mengambil kebijakan menyelamatkan perekonomian masyarakat peternak hewan yang menjadi korban serangan penyakit ngorok yang telah mematikan puluhan kerbau mereka, dengan cara menyalurkan bantuan bibit kerbau yang baru sehingga para korban dapat melanjutkan lagi usaha mereka.
Camat Pasie Raja, Said Ali menyebutkan bahwa dari beberapa desa sentra peternakan kerbau di Kecamatan Pasie Raja, di Desa Teupin Gajah ditemukan kasus kerbau mati sebanyak 31 ekor, di Desa Pasie Rasian sebanyak 17 ekor serta belasan ekor lagi di Desa Seunebok.
Sedangkan di Desa Ladang Tuha yang sebelumnya diketahui juga sempat terjangkit penyakit, cepat mendapat penanganan dari petugas kesehatan hewan Dinas Pertanian dan Peternakan sehingga bisa menyelamatkan kerbau milik masyarakat setempat dari kematian.
"Kasus ini sudah kami laporkan kepada pihak Dinas Pertanian dan Peternakan Aceh Selatan dimana mereka telah menurunkan tim ke lapangan untuk menanggulangi penyakit tersebut," katanya.
Menurut keterangan Kadis Pertanian dan Peternakan, petugas kesehatan hewan berencana akan menyuntikkan obat-obatan terhadap seluruh kerbau milik masyarakat yang berada di radius 2 hingga 3 kilometer dari temuan kasus pertama.
Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Peternakan pada Dinas Pertanian dan Peternakan Aceh Selatan, Muhammad membantah tudingan yang menyebutkan ada temuan kasus kerbau mati mencapai 50 ekor lebih di Kecamatan Pasie Raja sejak beberapa pekan terakhir.
"Tudingan itu keliru sebab tidak ada kerbau mati yang mencapai 50 ekor yang ada hanya 8 ekor itupun disebabkan masyarakat peternak terlambat memberitahukan hal itu kepada petugas," kata Muhammad.
Menurutnya, petugas kesehatan hewan dari Dinas Pertanian dan Peternakan Aceh Selatan mengalami hambatan dalam menanggulangi penyakit kerbau di beberapa desa dalam Kecamatan Pasie Raja selama ini, karena mayoritas peternak di wilayah tersebut tidak mengizinkan petugas menyuntikkan obat-obatan pada kerbau mereka.
"Sebenarnya penyakit tersebut sudah mulai terjangkit sejak bulan Juli 2016 lalu, kami langsung merespon persoalan itu dengan menurunkan petugas ke lapangan namun peternak tidak mengizinkan petugas menyuntikkan obat-obatan pada kerbau mereka. Petugas kami di lapangan diperlakukan seperti pengemis," tegasnya.
Padahal, sambung Muhammad, terhadap beberapa peternak yang mengizinkan petugas menyuntikkan obat-obatan pada kerbau mereka, terbukti hingga saat ini terbebas dari serangan penyakit.
Salah satu contoh kasus, seperti yang dialami oleh dua orang peternak di Desa Pasie Rasian dan Desa Teupin Gajah meskipun serangan penyakit telah mematikan beberapa kerbau milik peternak di desa itu, namun kerbau milik peternak dimaksud hingga saat ini masih sehat.
"Contoh kasus lainnya juga dapat dibuktikan di beberapa kecamatan lainnya dalam Kluet Raya yang diizinkan petugas menyuntikkan obat-obatan pada kerbau mereka, terbukti sampai saat ini terbebas dari serangan penyakit," jelas Muhammad.
Kendala lainnya juga dialami pihaknya, sambung Muhammad, terhadap peternak kerbau di Desa Teupin Gajah yang memelihara ternaknya dengan sistem melepas liar kerbau di alam lepas baru setahun sekali baru ada di kandangnya masing-masing, sehingga sangat menyulitkan petugas memberikan vaksin.
Muhammad juga membantah tudingan yang menyebutkan pihaknya kurang maksimal mengatasi persoalan itu karena minimnya tersedia anggaran.
"Anggaran tersedia sangat maksimal, pada tahun 2015 saja ada anggaran mencapai Rp400 juta, lalu pada tahun 2016 bertambah menjadi Rp500 juta. Pengadaan obat-obatan tersedia lengkap di dinas, petugas kami di kantor kesehatan hewan di masing-masing kecamatan stanby setiap hari dan siap menerima laporan masyarakat," katanya.
Pewarta: Hendrik: Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.