Meulaboh (ANTARA Aceh) - Masyarakat di perumahan komplek Blang Beurandang, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, meminta pemerintah menyediakan tempat (tong) sampah agar kotoran tidak berserakan di pemukiman padat penduduk.
"Sudah satu tahun ini kami menumpukan sampah di depan rumah, memang mobil sampah datang mengambil, tapi mereka juga kesulitan mengutip sampah karena tidak ada tempat," kata Anwar, salah seorang warga, di Meulaboh, Senin.
Beberapa kepala keluarga komplek perumahan Blang Beurandang satu (BB 1) melaporkan keluhan itu kepada Antara karena tidak tersedia tempat sampah, sehingga terpaksa mengunakan karung, ember dari rumah sebagai tempat penumpukan sampah.
Malahan mereka juga telah menyampaikan kepada kepada petugas pengangkut sampah yang datang dua hari satu kali ke pemukiman setempat, akan tetapi tidak direspon dan mereka justru menyampaikan bahwa tidak ada tempat sampah di instansi terkait.
Demikian halnya diutarakan oleh juru pungut retribusi sampah utusan pemda setempat yang selalu datang tepat waktu menagih Rp10.000/ rumah/bulan di komplek BB I yang semuanya berjumlah sekitar 200-san unit rumah.
"Kami tidak pernah protes berapa biaya ataupun persoalan keterlambatan sesekali petugas memungut sampah. Kami hanya meminta pemerintah menyediakan tong agar sampah kami tidak merusak lingkungan, bau dan segala macam," tegasnya.
Lebih lanjut disampaikan, meskipun ada beberapa unit tong sampah yang masih terdapat di depan rumah warga, namun hanya bersifat skala rumah tangga sehingga tidak bisa menumpangi sampah dari rumah tetangga masyarakat setempat.
Sementara itu Kepala Badan Lingkungan Hidup dan Kebersihan (BLHK) Aceh Barat Adi Yunanda, yang dikonfirmasi membenarkan terkait keterbatasan pengadaan tong sampah sehingga tidak semua dapat dibagikan merata ke semua pemukiman penduduk.
"Kebutuhan kita kemarin itu sampai 1000 unit, tapi pengadaan yang tersedia hanya 200 unit, jadi ini masih coba kita upayakan. Tapi persoalan sampah selama ini terangkut semua, tidak terjadi penumpukan," sebutnya.
Adi Yunanda yang ditemui di kantornya memilih tidak banyak berkomentar terkait persoalan sosial masyarakat yang keterbatasan tong sampah tersebut, dengan dalih ada kegiatan mendesak yang segera harus dilakukan pihaknya di lapangan.
Pada kesempatan yang sama dia juga menyampaikan terkait klarifikasi kasus dugaan pencemaran lingkungan yang mengakibatkan matinya tanaman padi masyarakat petani di Desa Balee, Kecamatan Mereubo, matinya tanana itu diduga akibat terkontaminasinya air banjir dengan limbah batubara milik perusahaan pertambangan di daerah itu.
"Terkait itu (dugaan pencemaran lingkungan), hasil uji laboaratorium dari Banda Aceh telah kita terima. Cuma masih ditalaah dulu kemudian disampaikan pada pimpinan dan belum dapat kita informasikan untuk di publikasi," katanya menambahkan.
Pewarta: AnwarUploader : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.