Banda Aceh (ANTARA Aceh) - Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menggelar pameran bertajuk "Mengenal Batu Nisan Aceh".
Pameran batu nisan tersebut dipusatkan di Museum Aceh, Banda Aceh, Selasa. Pameran dibuka secara simbolis oleh Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud.
Pameran batu nisan tersebut memamerkan koleksi asli 18 batu nisan, empat batu nisan koleksi Kesultanan Pasai, tiga koleksi Kerajaan Lamuri, serta 11 koleksi batu nisan zaman Kesultanan Aceh Darussalam.
Gubernur Aceh Zaini Abdullah dalam sambutan tertulis dibacakan Sekretaris Daerah Aceh Dermawan mengatakan, pameran ini untuk menjelaskan sejarah Islam masa yang terukir di batu-batu nisan kepada masyarakat.
"Selain itu, pameran ini untuk menunjukkan bahwa pada masa lalu Aceh memiliki karya seni batu nisan yang tidak ternilai harganya. Dan batu nisan Aceh ini merupakan warisan tertua di Asia Tenggara," kata Zaini Abdullah.
Gubernur menyatakan, karya seni batu nisan masa lalu tidak hanya berkembang di Aceh. Batu nisan Aceh ini juga ditemukan di Malaysia, Brunai Darussalam, dan Thailand Selatan.
"Arkeolog meyakini batu nisan yang ditemukan di sejumlah negara tersebut merupakan karya seni dari Aceh. Batu-batu nisan itu dibawa dari Aceh," ungkap Gubernur Aceh Zaini Abdullah.
Oleh karena itu, Gubernur Aceh mengajak masyarakat mengunjungi pameran batu nisan yang berlangsung 9 Mei hingga sepekan ke depan. Karena banyak sejarah, khususnya yang terukir di batu nisan tersebut.
"Pemerintah Aceh menaruh perhatian besar terhadap penyelamatan batu-batu nisan tersebut. Selain menggambarkan sejarah Aceh, batu nisan tersebut memiliki karya seni yang tidak ternilai harganya," kata Zaini Abdullah.
Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud memberi apresiasi terlaksananya pameran batu nisan. Pameran ini bagian dari upaya melestarikan dan menyelamatkan batu nisan Aceh.
"Batu nisan Aceh merupakan warisan yang harus diselamatkan. Sebab, batu nisan tersebut merupakan bukti sejarah bahwa Aceh memiliki kebudayaan tinggi di masa lalu," kata Malik Mahmud.
Pewarta: M Haris SA
COPYRIGHT © ANTARA 2026