Aceh Tamiang (ANTARA) - Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Muhammad Qodari menyatakan pondok pesantren (dayah) Islam Terpadu Darul Mukhlisin di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang mendapat perhatian khusus pemerintah pusat untuk segera dipulihkan pascabencana.
"Tempat ini (Pesantren Darul Mukhlisin) mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat, bahkan ada instruksi khusus dari Seskab Teddy Indra Wijaya untuk cepat dibersihkan ditangani bersama-sama kepada Menteri Kehutanan dan pihak terkait lainnya," kata Muhammad Qodari, di Aceh Tamiang, Kamis.
Instruksi untuk memberikan perhatian khusus itu diketahuinya melalui grup menteri yang disampaikan Seskab, tentunya arahan dari Presiden untuk menangani Pesantren Darul Mukhlisin ini dengan sebaik-baiknya, terutama memindahkan kayu-kayu bekas banjir.
Pernyataan itu disampaikan Muhammad Qodari saat berkunjung ke Aceh Tamiang dalam rangka memastikan pemulihan bencana yang telah dilakukan pemerintah pusat dari berbagai aspek serta ikut menyalurkan bantuan.
Awalnya, KSP beserta rombongan meninjau asrama perempuan yang masih berlumpur dan pembersihan puing-puing. Setelahnya, KSP turun melihat kompleks asrama pria yang pernah viral di media sosial karena dikelilingi kayu-kayu besar.
Saat berada di bekas tumpukan kayu hanyut, Muhammad Qodari sempat tertegun mendengar cerita peristiwa banjir bandang Aceh Tamiang dari salah satu ustadz pengurus pesantren. Bagaimana kala itu mereka hanya bertahan hidup dengan minum air kelapa selama beberapa hari hingga air surut.
Baca: Kastaf Kepresidenan serahkan penjernih air untuk korban bencana di Aceh Timur
M Qodari juga mendengar kabar kalau kayu-kayu di sana saat sebelum dibersihkan seperti tawaf mengelilingi masjid.
"Di lokasi ini ya, yang katanya kayu-kayu itu seperti tawaf mutar tanpa menyentuh masjid," ujar M Qodari.
Sementara itu, Pendiri Pesantren Darul Mukhlisin, H Zakwan mengatakan, saat ini situasi pesantren sudah bersih dari kayu-kayu besar. Tetapi sebelumnya, tembok bangunan pesantren ini seolah menjadi pelindung rumah-rumah warga dari hempasan kayu-kayu gelondongan yang terbawa arus.
"Meski konsekuensinya adalah pesantren rusak, banyak bagian kena air yang begitu besar, kayu dan lumpur. Tapi Alhamdulillah berkat kerjasama semua pihak TNI, Polri dari Kementerian Kehutanan dan juga ada BUMN dari Wika, tempat ini pelan-pelan mulai dibersihkan, kita lihat sudah tidak ada lagi kayunya," kata Zakwan.
Ia menambahkan, kegiatan belajar mengajar di pesantren sudah mulai aktif, tetapi santri masih belajar pulang pergi, dan belum bisa boarding atau tinggal di asrama seperti sebelumnya.
Secara khusus, Zakwan juga meminta bantuan sarana dan prasarana kepada pemerintah pusat untuk pengoperasian kembali pesantren terbesar di Aceh Tamiang tersebut.
"Belum bisa boarding, soalnya kondisi asrama laki-laki dan perempuan belum memungkinkan untuk santri menginap. Mungkin secara perlahan akan kami rehab dulu, minta doanya juga agar segala sesuatunya cepat pulih nanti," demikian H Zakwan.
Baca: Kunjungi Aceh Tamiang, KSP ajari siswa berhitung hingga beri bantuan alat tulis
Pewarta: Dede HarisonEditor : M.Haris Setiady Agus
COPYRIGHT © ANTARA 2026