Aceh Tamiang (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh Tamiang kembali melanjutkan program fogging atau pengasapan larvasida secara generalisasi ke pemukiman penduduk untuk mencegah timbulnya kasus DBD dan malaria.

"Sehubungan dengan peningkatan populasi nyamuk pascabencana banjir di 12 kecamatan, maka kami dari Dinas Kesehatan melakukan proses fogging secara generalisasi," kata Kepala Dinkes, Aceh Tamiang, Mustaqim saat ditemui di Aceh Tamiang, Sabtu.

Mustaqim mengatakan, kegiatan fogging kali ini berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Kota Binjai. Sumatera Utara, Balai Karantina Kesehatan Lhokseumawe dan dari Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI. Sejauh ini sudah melakukan proses fogging di sembilan kecamatan.

Baca juga: Pertamina suplai air bersih untuk warga terdampak kekeringan di Aceh Tamiang

Adapun sembilan kecamatan itu yakni Kota Kuala Simpang, Karang Baru, Rantau, Tamiang Hulu, Tenggulun (Simpang Kiri), Kejuruan Muda, Bandar Pusaka, Manyak Payed dan Sekerak. 

"Sementara untuk tiga kecamatan lagi yang berada di wilayah pesisir yakni Kecamatan Seruway, Bendahara dan Banda Mulia bakal menyusul secara simultan," ujarnya.

Mustaqim berharap, kegiatan ini dapat mencegah larvasida di gorong-gorong atau selokan dengan penggunaan abate di bak air, serta tempat yang tergenang.

Kegiatan ini terus dilakukan secara bertahap dan simultan, terutama pada wilayah yang memiliki resiko endemi munculnya kasus DBD atau malaria. 

Meski sejauh ini belum ditemukan kasus positif DBD, tetapi Dinkes Aceh Tamiang mencatat ada 14 kasus suspek (dicurigai) dan sembilan diantaranya sudah dilakukan penyelidikan epidemiologi (PE).

"Nanti di Puskesmas kami akan melakukan proses pemberian abate sehingga pihak surveillance program DBD melakukan memberikan abate pada seluruh sumur atau tempat air yang tergenang di wilayah kerja masing-masing Puskesmas," katanya.

Menurutnya, peningkatan populasi nyamuk ini akan terjadi secara terus menerus, sehingga aksi yang paling efektif itu adalah gotong royong menjaga kebersihan lingkungan selain fogging dan pemberian abate.

Apabila sudah tidak ada tenda pengungsian, lanjut dia, masyarakat bisa melakukan gotong royong yang lebih efektif, sehingga mencegah munculnya jentik-jentik nyamuk di genangan air maupun di kantong-kantong sampah.

Selain pengasapan, gotong royong plus aksi 3M yakni, mengubur barang bekas, menguras bak air rutin dan menutup wadah atau tempat air guna mencegah nyamuk bertelur 

"Kalau misalnya lingkungan dan airnya bersih, Insya Allah tidak ada larva nyamuk yang hinggap di dalam genangan air tersebut," demikian Mustaqim.


Baca juga: Pemkab Aceh Tamiang siapkan Rp4,6 miliar untuk program padat karya



Pewarta: Dede Harison
Editor : Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026