Banda Aceh (ANTARA) - Badan Penanggungan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pidie Jaya menyebutkan sebanyak 739 unit hunian sementara (huntara) untuk korban bencana hidrometeorologi sedangkan dibangun di daerah itu dengan progres rata-rata mencapai 80 persen.

"Hunian sementara atau huntara yang sedang dibangun di Kabupaten Pidie Jaya sebanyak 739 unit. Progres pembangunan bervariasi, rata-rata sudah mencapai 80 persen," kata Pelaksana Harian (Plh) Kepala BPBD Kabupaten Pidie Jaya Okta Handipa yang dihubungi dari Banda Aceh, Senin.

Lokasi pembangunan huntara tersebut di antaranya di kompleks perkantoran pemerintahan Kabupaten Pidie Jaya di Kecamatan Meureudu, Gampong Meunasah Raya di Kecamatan Meurah Dua, dan beberapa lokasi lainnya.

Baca juga: BPBD: 58 huntara ditempati warga terdampak bencana di Bener Meriah
 

Sedangkan hunian sementara yang sudah selesai dibangun serta sudah ditempati masyarakat terdampak bencana hidrometeorologi sebanyak 212 unit. Terdiri, 162 unit huntara dibangun Danantara dan 50 unit dibangun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

"Kami berharap pembangunan hunian sementara tersebut dapat segera selesai, sehingga masyarakat terdampak bencana yang masih di pengungsian dapat secepatnya direlokasi ke hunian sementara," katanya.

Sebelumnya, Bupati Pidie Jaya Sibral Malasyi menyatakan Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya mempercepat pembangunan hunian sementara guna menargetkan pengungsi keluar dari tenda dan dipindahkan ke hunian sementara sebelum bulan suci Ramadhan.

"Targetnya pembangunan hunian sementara tersebut rampung dan pengungsi dapat keluar tenda sebelum Ramadhan," kata Sibral Malasyi ketika mendampingi Kepala BNPB Suharyanto meninjau pembangunan huntara di Gampong Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya.

Bupati menegaskan penyediaan hunian sementara guna memastikan masyarakat terdampak bencana segera keluar dari kondisi pengungsian yang tidak layak, seperti tenda, aula pertemuan, sekolah, dan tempat ibadah.

Hunian sementara merupakan tempat tinggal yang lebih aman dan manusiawi sambil menunggu pembangunan hunian tetap, kata Sibral Malasyi menjelaskan.

"Ini bukan sekadar membangun tempat tinggal sementara, tetapi memastikan masyarakat bisa kembali hidup layak, sehat, dan bermartabat setelah bencana," katanya.

Menurut Sibral Malasyi, keberadaan hunian sementara memberikan manfaat nyata bagi korban bencana, di antaranya meningkatkan keamanan dan kesehatan dibandingkan tinggal di tenda.

Serta memberikan ruang hidup yang lebih layak bagi keluarga, memungkinkan masyarakat kembali beraktivitas pascabencana. Dan menata kehidupan sosial, ekonomi, serta menjadi solusi transisi yang jelas menuju hunian tetap.

"Kami menegaskan seluruh proses pemulihan pascabencana akan terus dikawal secara transparan dan sesuai aturan, dengan mengutamakan kepentingan masyarakat. Bersama kita bangkit, bersama kita pulih," kata Sibral Malasyi.


Baca juga: BNPB persilahkan korban banjir bandang di Nagan Raya bangun hunian mandiri



Pewarta: M.Haris Setiady Agus
Editor : Febrianto Budi Anggoro

COPYRIGHT © ANTARA 2026