Banda Aceh (ANTARA) - Mahasiswa Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) Banda Aceh mengembangkan kebun sayur untuk masyarakat di areal persawahan terdampak bencana di Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh.

Rektor UBBG Prof Lili Kasmini di Banda Aceh, Senin, mengatakan pengembangan kebun sayur mini tersebut dilakukan di Gampong Tiba Mesjid, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie. 

"Pengembangan kebun sayur ini merupakan sinergisitas dosen dan mahasiswa melalui Program Mahasiswa Berdampak. Pengembangan kebun sayur ini merupakan upaya civitas akademika UBBG dalam mendukung pemulihan pascabencana," katanya.

Program Mahasiswa Berdampak di wilayah bencana tersebut berlangsung sejak 3 Februari hingga Maret 2026. Kebun yang sebelumnya areal sawah terdampak banjir, kini mulai hijau kembali dengan tanaman sayur.

Ketua Program Mahasiswa Berdampak Ns Neila Fauzia mengatakan pengembangan kebun dilakukan di areal persawahan yang sebelumnya terdampak banjir akhir November 2025.

"Sayuran yang ditanam menunjukkan pertumbuhan positif dan ditargetkan dapat dipanen sebelum Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah/2026 Masehi. Sayuran yang ditanam seperti kangkung dan bayam karena memiliki siklus tanam singkat, yakni sekitar 25-30 hari," katanya.

Sebelumnya, banjir menyebabkan endapan lumpur tebal di area persawahan tersebut, sehingga lahan belum dapat dimanfaatkan secara optimal untuk musim tanam padi. 

"Kondisi tersebut berdampak pada terhentinya produksi pangan dan meningkatnya kekhawatiran masyarakat pada bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri, sehingga areal persawahan dikembang menjadi kebun sayur," kata Neila Fauzia.

Ia mengatakan melalui pemetaan lahan dan koordinasi bersama aparatur desa setempat, tim mahasiswa mengidentifikasi sawah yang memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai lahan tanam sementara. 

Menurut dia, pemanfaatan areal persawahan terdampak bencana merupakan langkah strategis agar masyarakat tetap produktif selama proses pemulihan lahan pertanian utama.

Penanaman dilakukan secara gotong royong dengan pendampingan teknis dari mahasiswa, mulai dari pengolahan tanah, pemupukan organik, hingga pemantauan pertumbuhan tanaman. 

"Saat ini, sebagian tanaman telah memasuki fase vegetatif awal dan tumbuh merata di lahan yang telah dibersihkan," kata Neila Fauzia.

Ia menyebutkan program tersebut terlaksana berkat dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat serta Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema hibah.

"Kami mengapresiasi dan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) atas dukungan dan pendanaan melalui Program Mahasiswa Berdampak," kata Neila Fauzia.

Keuchik (kepala desa) Gampong Tiba Mesjid Haryadi mengapresiasi kolaborasi mahasiswa dan masyarakat dalam mengembangkan kebun sayur di areal persawahan terdampak bencana.

"Pemanfaatan areal persawahan ini tidak mempercepat pemulihan sektor pertanian, tetapi juga menghidupkan kembali semangat kebersamaan warga pascabencana. Dan terpenting, masyarakat kini memiliki semangat dan harapan baru setelah bencana," kata Haryadi.



Pewarta: M.Haris Setiady Agus
Editor : M Ifdhal

COPYRIGHT © ANTARA 2026