Jasman, salah seorang tokoh masyarakat Kecamatan Lembah Sabil di Blangpidie, Rabu mengatakan, lahan tidur di kawasan bukit Lembah Sabil luasnya diperkirakan mencapai puluhan ribu hektare dan sudah puluhan tahun tidak digarap lagi oleh warga.
Warga tidak lagi menanam tanaman di pengunungan Sabil itu, lanjut dia, karena petani daerah itu selama ini sudah kewalahan dalam mengatasi ganguan kawanan ternak masyarakat yang dilepaskan secara liar ditambah lagi oleh hama babi yang menggangu tanaman warga.
"Dulu, pada era tahun 60-an, gunung Lembah Sabil ini bisa memproduksi berbagai hasil komoditi yang dapat menghasilkan ekonomi masyarakat petani, baik dari hasil lada, cengkeh, ubi, nenas, jagung dan pisang yang bisa dipasarkan keluar daerah," ungkapnya.
Ia berkata, dengan hasil produksi dari berbagai jenis komoditi tersebut, masyarakat petani yang menggarap lahan di kawasan Gunung Sabil bisa berangkat haji dan bahkan ada juga yang membeli kendaraan roda empat yang dikenal dengan sebutan mobil ekpres Manggeng putra era tahun enam puluhan.
"Kejayaan itu kini sudah sirna setelah masyarakat petani tidak lagi memanfaatkan lahan perkebunan yang ada di perbukitan Lembah Sabil itui. Petani tidak lagi menggarap lahan tersebut lantaran banyaknya ternak warga yang berkeliaran secara liar dan mengganggu tanaman, ditambah lagi dengan hama babi," ungkapnya.
Masyarakat petani, lanjut dia, telah beberapa kali berupaya untuk memanfaatkan kembali lahan tersebut, namun selalu gagal lantaran terkendala dengan biaya untuk membeli bahan baku pagar.
"Jadi, masyarakat telah berupaya untuk menggarap kembali lahan itu, namun terkendala dengan hama babi dan kawanan ternak yang setiap saat mengincar tanaman mereka karena pagar yang dibuat seadanya tidak mampu melindungi tanaman," imbuhnya.
Melihat antusiasnya masyarakat petani untuk menggarap lahan tersebut, kata dia, pemerintah desa melalui dana desa telah mewacanakan untuk membangun pagar secara permanen agar tanaman yang telah ditanam oleh petani bisa terselamatkan dan menghasilkan, sehingga kejayaan tahun 60-an lalu bisa dirasakan warga.
"Jika program yang kami wacanakan ini berhasil, maka manfaatnya tidak saja dirasakan oleh masyarakat petani, tetapi juga seluruh masyarakat lainnya seperti pedagang dan para pekerja," demikian Jasman.
Pewarta: suprianUploader : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.