Banda Aceh, 6/2 (Antara) - Puluhan mahasiswa Universitas Syiah Kuala menggelar unjuk rasa menuntut pelaksanaan pemilu legislatif 9 April 2014 berlangsung damai.
Dalam aksi di Bundaran Simpang Lima, Banda Aceh, Kamis, mahasiswa mengusung spanduk bertuliskan "Stop politik kotor", "Wujudkan pemilu damai", dan "Pemilu kotor rakyat sengsara".
T Rayyan Fazlul, koordinator aksi, mengatakan unjuk rasa ini sebagai bentuk respons mahasiswa yang menginginkan terciptanya pemilu damai di Provinsi Aceh.
"Kami mengingatkan partai politik dan para politisinya tidak melakukan politik kotor, sehingga bisa menimbulkan konflik di masyarakat. Pemilu ini adalah untuk kepentingan rakyat, bukan kepentingan partai politik," tandas dia.
Sementara itu, Presiden Mahasiswa Universitas Syiah Kuala Muhammad Chaldun mengatakan, pemilu merupakan bagian tidak terpisahkan dari proses demokrasi di Indonesia.
Oleh karena itu, lanjut dia, segala bentuk kecurangan, penyimpangan, penyelewengan fasilitas negara, dan praktik politik negatif sekecil apa pun tidak mempunyai tempat dalam pesta demokrasi yang akan digelar 9 April mendatang.
"Karena itu, kami menuntut terwujudnya pelaksanaan pemilu damai. Semua peserta harus siap kalah dan siap menang serta rakyat harus bebas dari intimidasi dan politik kotor," kata dia.
Selain itu, Muhammad Chaldun mengajak seluruh masyarakat Aceh ikut berpartisipasi menyalurkan hak politiknya dan tidak ikut-ikutan golput, serta menuntut pemerintah memberikan pendidikan politik bermartabat kepada masyarakat.
"Kami juga mengutuk keras penggunaan fasilitas negara sebagai alat kampanye dan mengimbau pemerintah beserta seluruh elemen masyarakat bersama-sama menjaga perdamaian dan mengawal proses pemilu agar berjalan lancar," kata Muhammad Chaldun.
T.KR.HSA

Pewarta: Pewarta : M Haris SA
Editor : Salahuddin Wahid

COPYRIGHT © ANTARA 2026