"Produksi padi di Nagan Raya setiap tahun mengalami peningkatan karena didukung infrastruktur pertanian, terutama tersedianya irigasi memadai," kata Kasie Tanaman Pangan Dinas Pertanian Nagan Raya, Ibnu Hajar, S.P, di Nagan Raya, Jum`at.
Capain produksi gabah petani tersebut dihitung dari rata - rata produksi 7,5 ton/ hektare, kemudian pada 2019 pihak Pemerintah Daerah akan mengupayakan totalitas produksi lebih tinggi dengan dukungan penyaluran bibit, pupuk serta berbagai kebutuhan petani.
Pada tahun 2019 ini, Pemkab Nagan Raya sudah menyampaikan rilis laporan target produksi tanaman padi kepada pemerintah pusat untuk pengadaan benih padi dengan luas tanam mencapai 15.536 hektar.
Kegiatan itu selama dua Musim Tanam (MT) yakni MT Gadu dan MT Rendengan atau Indek Pertanian (IP) yakni dua kali penanaman selama satu tahun, namun pemerintah tidak melarang jika ada petani bisa menanam sampai tiga kali setahun.
Ibnu Hajar menyampaikan selama tahun 2019 Pemerintah Nagan Raya, juga akan mengupayakan pengembangan lahan kering untuk pengembangan tanaman padi dan palawija untuk optimalisasi pemanfaatan lahan kosong di daerah setempat.
"Tahun ini kita juga ada program pengembangan lahan kering, artinya pemanfaatan lahan kering untuk dukungan pengembangan tanaman padi ladang atau palawija, yang penting lahan kosong di Nagan Raya ini diberdayakan," ungkapnya.
Menurut dia, dengan adanya pengelolaan lahan kering bisa menambah produksi tanaman pangan berupa padi ladang maupun palawija untuk menyokong program ketahanan pangan regional dan nasional di kawasan setempat.
Ibnu Hajar mengatakan pengembangan tanaman palawija di Kabupaten Nagan Raya hingga kini masih tergolong minim karena persoalan di daerah saat ini adalah kesulitan dalam pemasaran tanaman palawija, namun pihaknya tetap berupaya memberdayakan petani.
Seperti produksi jagung, walau pun selama ini banyak dihasilkan petani daerah setempat, akan tetapi harga jualnya tidak begitu menguntungkan, kemudian kedelai juga ketika panen petani tidak tahu harus menjual kemana.
"Selama ini menyangkut palawija ini petani masih sulit dalam hal pemasaran, contohnya jagung, hasil panen jagung ini pemasarannya tidak cocok terkadang harga jualnya terlalu murah, makanya petani kita ini tidak banyak menanam jagung," pungkasnya.
Pewarta: AnwarUploader : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.