Potret Perikanan Aceh
- 14 Oktober 2019 20:33
Nelayan menunaikan ibadah shalat diatas palong (bagan) saat mencari ikan di perairan Krueng Raya, Aceh Besar, Aceh, Sabtu (5/10/2019).
Nelayan palong (bagan) bersama-sama menarik jala dengan perlengkapan tradisional di perairan Krueng Raya, Aceh Besar, Aceh, Sabtu (5/10/2019).
Nelayan palong (bagan) bersama-sama menarik jala dengan perlengkapan tradisional di perairan Krueng Raya, Aceh Besar, Aceh, Sabtu (5/10/2019).
Nelayan membersihkan, merapikan dan mengecek alat tangkap jaring seusai melaut di Banda Aceh, Aceh, Sabtu (5/5/2018).
Para pekerja menyelesaikan pembuatan dan rehab kapal nelayan di galanagan kapal tradisional pinggir krueng (sungai) Aceh, Banda Aceh, Aceh, Sebin (7/10/2019).
Aktivitas kapal nelayan yang sandar dan bongkar muat hasil tangkapan nelayan di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Samudera, Banda Aceh, Aceh, Selasa (8/10/2019).
Aktivitas jual beli ikan jenis tongkol (Euthynnus sp) hasil tangkapan nelayan di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Samudera, Banda Aceh, Aceh, Selasa (8/10/2019).
Pekerja membelah ikan tuna kualitas ekspor di tempat pengolahan UD Nagata Tuna, Banda Aceh, Aceh, Sabtu (30/9/2017).
Pekerja menata ikan hasil tangkapan nelayan untuk kebutuhan industri nasional dalam gudang penyimpanan UD Nagata Tuna di Banda Aceh, Aceh, Kamis (18/7/2019).
Pekerja menjemur ikan olahan untuk dijadikan ikan kayu dan ikan asin di salah satu rumah produksi di Desa Lampulo, Banda Aceh, Aceh, Selasa (9/10/2018).
Nelayan membongkar muat ikan jenis tongkol (Euthynnus sp) hasil tangkapan nelayan di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Samudera, Banda Aceh, Aceh, Selasa (8/10/2019).
Nelayan mengumpulkan dan membawa ikan-ikan kecil jenis teri dan necis hasil tangkapan dengan menggunakan jaring pukat darat di Banda Aceh, Aceh, Rabu (18/9/2019)
Aktivitas pedagang dan konsumen di pasar ikan tradisional Peunayong, Banda Aceh, Aceh, Jumat (11/1/2019).
Pedagang kaki lima menata ikan tongkol (Euthynnus sp) hasil tangkapan nelayan di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Samudera, Banda Aceh, Aceh, Selasa (8/10/2019).
Pedagang membakar ikan untuk dijajakan di pasar takjil Ramadan, Lampineung, Banda Aceh, Aceh, Rabu (8/5/2019). POTRET PERIKANAN ACEH Provinsi Aceh yeng berada di ujung barat pulau sumatra yang dikelilingi samudera Indonesia di wilayah barat selatan Aceh dan selat malaka serta perairan Andaman di wilayah Utara-Timur Aceh dengan panjang garis pantai 2.666,27 Km. Sedangkan luas perairannya mencapai 295.370 Km persegi, yang terdiri dari perairan teritorial dan kepulauan 56.563 Km persegi, serta perairan zona ekonomi eksklusif (ZEE) 238.807 Km persegi. Sebagai warga Aceh tentu patut bersujud syukur atas limpahan rahmat terhadap potensi perikanan dan kelautan serta memiliki nelayan yang handal dalam mengekploitasi kekayaan alam tersebut. Potensi perikanan dan kelautan Aceh diperkirakan mencapai 272,7 ribu ton/tahun, jumlah kapal penangkap ikan diperkirakan lebih 16 ribu unit dan jumlah nelayan yang menggali sumber daya kelautan berkisar 64 ribu orang lebih. Potensi sumber daya kelautan dan perikanan telah menjadi salah satu tulang punggung perekonomian masyarakat Aceh, bukan hanya di laut , didaratan pun telah tumbuh galangan-galangan kapal kayu untuk mendukung sektor perindustrian dan perdagangan perikanan. Pemerintah daerah melalui program Aceh “Meugoe dan Meulaot” juga terus berupaya meningkatkan pembangunan sektor kelautan dan perikanan dengan mengarahkan pada perbaikan sarana prasarana atau fasilitas dan teknologi perikanan serta jaringan pemasarannya. Sejak 2006 Pemerintah Aceh telah membangun pelabuhan perikanan Lampulo yang dipersiapkan menjadi pelabuhan utama bertaraf Internasional dengan daya tampung kurang lebih 200 kapal penangkap ikan berukuran di bawah 40 GT. Pelabuhan ini pada masa yang akan datang diharapkan menjadi pintu ekspor hasil laut Aceh. Untuk mewujudkan mimpi tersebut, tentu bukan hanya memiliki galangan kapal yang berkualitas dan sarana serta prasarana pelabuhan yang mumpuni namun sektor pengolahan hasil laut juga harus ditingkatkan agar lebih professional sehingga kualitas produk tetap terjaga. Kini Aceh telah memiliki tempat pengolahan ikan basah yang professional bahkan hasil olahannya telah mampu menembus pasar intenasional diantaranya Jepang, Malaysia, Singapura, Taiwan, Thailand dan Hongkong. Ditingkat lokalpun, produk perikanan telah diolah menjadi berbagai produk yang mampu meningkatkan perekonomian keluarga dan menampung tenaga kerja. Semoga perikanan Aceh terus berkembang dan maju dimasa kini dan yang akan datang. Foto dan Teks : Irwansyah Putra