Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Timur mencatat sebanyak delapan kasus human immunodeficiency virus (HIV) atau virus yang merusak kekebalan tubuh di kabupaten itu sepanjang 2022.

"Sejak Januari hingga November 2022, ada delapan kasus HIV dan seorang di antaranya  dilaporkan meninggal dunia," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Timur Sondang di Aceh Timur, Kamis.

Sondang mengatakan pihaknya juga telah melakukan berbagai langkah seperti melakukan tes atau skrining untuk mengetahui antibodi terhadap virus mematikan dan belum ada obatnya.

Menurut Sondang, skrining tidak hanya dilakukan untuk kelompok maupun komunitas tertentu saja, tetapi juga ibu hamil serta masyarakat umum lainnya.

Skrining, kata Sondang, merupakan upaya pencegahan agar HIV tidak menular kepada orang lainnya. Penularan HIV hanya bisa melalui kontak dengan darah yang terinfeksi, serta cairan alat kelamin.

"Selain skrining atau deteksi, kami juga menggencarkan sosialisasi pada remaja terkait pencegahan dan penanganan kasus HIV," kata Sondang menyebutkan.

Sementara itu, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Zubir Mahmud Kabupaten Aceh Timur Edi Gunawan mengatakan pihaknya menangani enam pasien HIV sejak enam bulan terakhir.

"Ada enam pasien yang telah kami tangani yaitu seorang wanita dan lima laki-laki. Pasien HIV tersebut merupakan warga Aceh Timur dan Banda Aceh. Saat ini, enam pasien tersebut sudah dipulangkan dan hanya rawat jalan," kata Edi Gunawan.

Orang yang terinfeksi HIV memiliki gejala seperti flu, demam, sakit tenggorokan, dan kelelahan. Kemudian penyakit ini biasanya tanpa gejala sampai berkembang menjadi AIDS (acquired immunodeficiency syndrome).

Gejala AIDS termasuk penurunan berat badan, demam atau berkeringat saat malam, kelelahan, dan infeksi berulang. Tidak ada obat untuk AIDS, tetapi kepatuhan ketat mengonsumsi obat dapat mencegah infeksi sekunder dan komplikasi.
 

Pewarta: Hayaturrahmah

Editor : M.Haris Setiady Agus


COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2022