Banjir menghanyutkan sekitar puluhan kubik sampah batang dan ranting kayu terdampar ke darat di bibir tanggul jebol Desa Marlempang, Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang.

"Heran kami banjir kali ini kok banyak sekali batang kayu mendarat di tanggul yang jebol itu. Kalau ditaksir jumlahnya mencapai puluhan kubik atau ton," kata Edi Susilo (30), warga Marlempang, Jumat.

Menurut Edi kayu yang menumpuk di tepi tanggul Marlempang itu didominasi oleh kayu tebangan sembarangan. Ukurannya pun tidak terlalu besar seperti kayu logging.

Baca juga: 360 hektare persawahan di Aceh Utara terendam banjir

"Banyak jenis kayu jabon dan sengon tidak ada kayu keras. Mungkin ada orang baru panen sengon, limbahnya dibiarkan tidak diambil," ucap Edi.

Aktivis PMII Aceh Tamiang ini memastikan meski jumlah kayu banyak di tepi sungai itu tapi tidak bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar baik untuk kayu bakar maupun kayu arang karena jenis kayu lembek.

"Kalau dibakar jadi abu bukan bara, sama sekali limbah tidak bisa dimanfaatkan itu kayunya," ujarnya.

Baca juga: Pemkot buatkan saluran tali air untuk cegah banjir genangan di Banda Aceh

Terpisah, Direktur Eksekutif LSM LembAHtari Sayed Zainal melihat banjir yang menerjang Aceh Tamiang pada Sabtu 21 Januari 2023 selain dipicu curah hujan tinggi di wilayah Lokop Aceh Timur juga dipengaruhi oleh kerusakan kawasan hutan.

"Curah hujan hanya pemicu, tetapi kondisi kawasan hutan di Aceh Tamiang sebenarnya sudah kritis, karena alih fungsi, perambahan hutan yang tidak bisa dihentikan
dan termasuk aksi pembalakan liar juga masih berjalan," sebut Sayed.

Baca juga: Pasca banjir, begini aktivitas sekolah di Pidie

Di samping itu lanjut Sayed Zainal yang juga selaku Tim  Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai (TKPSDA-WS) Aceh Tamiang-Langsa ini DAS Aceh Timur yang mengalir ke arah Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Jernih secara nasional dengan DAS Aceh Tamiang dan Langsa juga termasuk dalam kelompok DAS kritis yang harus segera dipulihkan dengan penangan khusus.

Dia menegaskan dampak bencana banjir tidak hanya cukup untuk penanggulangan tetapi harus siiring dengan kebijakan dan tindakan pencegahan.

"Kewenangannya DAS tiga daerah tersebut ada di Provinsi Aceh. Kabupaten Aceh Tamiang adalah masuk dalam kabupaten rawan bencana banjir. Hal itu ditandai banyak kayu rimba hanyut terbawa arus banjir. Di sisi lain lingkungan hutan sudah beralih fungsi menjadi hamparan kebun sawit sehingga air sungai Aceh Tamiang tidak jernih lagi kendati sedang tidak banjir," ungkap Sayed Zainal.

 

Pewarta: Dede Harison

Editor : Heru Dwi Suryatmojo


COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2023