Puluhan petani di Desa Lasikin, Kecamatan Teupah Tengah, Kabupaten Simeulue, terpaksa menaiki rakit tua menyeberangi sungai menuju ke lahan pertanian dan perkebunan karena jembatan yang diharapkan tidak kunjung dibangun.

Kepala Desa Lasikin Julianto di Simeulue, Rabu, mengatakan rakit tersebut digunakan petani sejak tahun 2020. Sebelumnya, mereka menggunakan batang bambu sebagai jembatan penyeberangan.

"Jembatan bambunya rusak, sehingga puluhan petani tersebut terpaksa menyeberangi sungai dengan rakit. Kondisi rakitnya sudah tua dan lapuk," kata Julianto,

Julianto mengatakan ada 30 petani mengelola lahan pertanian dan perkebunan seluas 30 hektare di seberang sungai tersebut. Mereka bersawah dan menanam komoditas perkebunan.

Menurut Julianto, sungai yang diseberangi puluhan petani tersebut luas dengan arus yang deras. Kondisi tersebut bisa mengancam keselamatan jiwa mereka sejak menyeberangi menggunakan rakit.

Rakit tersebut, kata dia, menjadi akses utama warga petani untuk menuju lahan pertanian. Selain itu, rakit tersebut juga digunakan sebagai akses petani mengangkut puluhan ton hasil pertanian seperti padi, pinang, dan juga cengkeh.

"Selain muatan terbatas, juga rakit itu berbahaya bagi petani. Pemerintah desa berupaya membangun jembatan menggunakan dana desa, namun masih sebatas pembangunan abutmen atau fondasi menelan anggaran Rp190 juta," kata Julianto.

Julianto mengatakan masyarakat juga sudah berupaya meminta bantuan ke Pemerintah Kabupaten Simeulue membangun jembatan tersebut. Namun, hingga saat ini belum terealisasi.

"Sudah beberapa kali didata dan difoto serta dijanjikan jembatan tersebut dibangun. Namun, hingga kini tidak kunjung ada realisasinya. Jembatan tersebut jaraknya 10 kilometer dari pusat kota kabupaten," kata Julianto.

Jabid, petani setempat, mengharapkan Pemerintah Kabupaten Simeulue membangun jembatan tersebut karena dibutuhkan masyarakat sebagai akses ke ladang atau perkebunan.

"Sudah puluhan tahun kami berharap dibangun jembatan yang representatif untuk memudahkan ke ladang. Namun, puluhan tahun pula kami hanya menerima janji-janji semata," kata Jabid.
 

Pewarta: Ade Irwansah

Editor : M.Haris Setiady Agus


COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2023