Banda Aceh (Antaranews Aceh) - Harga kakao di tingkat petani pada salah satu sentra produksi, cuma dihargai Rp29.000 per Kg di Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh, padahal sebelumnya sempat mencapai Rp33.000 per Kg.

"Harga tanaman kakao atau biasanya disebut dengan coklat, yang saat ini akan memasuki waktu panen raya pada daerah terisolir bersama Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh," kata Wahidin (37), petani kakao di Gayo Lues melalui sambungan telepon seluler dari Banda Aceh, Senin.

Namun hasil produksi kakao dalam satu hektar cuma bisa mencapai 500 kilogram hingga 750 kilogram dengan masa panen dua kali dalam satu tahun.

"Kalau cuma segini harganya, maka kami hanya dapat untung sedikit. Sebab, biaya yang harus dikeluarkan untuk merawat tanaman semakin tinggi," katanya.

Rabusin (47), petani di Putri Betung, Gayo Lues, mengatakan, harga tanaman kakao paling tinggi di daerah tersebut sempat menembus Rp33.000 per kilogram beberapa tahun lalu.

Seperti diketahui, petani di dataran tinggi di Aceh wilayah Tengah mengganti tanaman kemiri dengan kakao, akibat pohon kemiri tidak lagi menjanjikan demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Menurutnya, salah satu alasan petani menanam kakao karena bisa di panen setiap pekan, dan hasil pertahun lebih banyak jika dibanding dengan kemiri.

"Hingga kini, masih ada petani kembiri beralih ke coklat. Alhamdulillah, kami lebih duluan tanam coklat karena melihat petani lain yang telah berhasil," ungkapnya.

Fitriyan Umyuddin (36), pedangang pengumpul kako di Gayo Lues mengaku, harga diperlakukan dirinya berasal dari perusahaan pengolah kakao dengan mengacu harga pasar dunia.

"Setiap bulan, hampir sekitar enam ton kami lempar ke parbrik. Kalau harga di pabrik, tiap hari selalu berubah. Kini pabrik ambil cuma Rp31.250 per kilogram," tuturnya.

"Jadi kami ambil dari petani, antara Rp27.000 sampai Rp29.00 per kilogram," ujar Fitri.
 

Pewarta: Muhammad Said

Editor : Heru Dwi Suryatmojo


COPYRIGHT © ANTARA News Aceh 2018