Pemuda Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Aceh Tarmizi A Gani di Banda Aceh, Jumat menyatakan, home industri kecap "Singa Aceh" yang berada di Desa Munasah Dayah itu kini ingin mengembangkan pemasarannya ke luar Provinsi Aceh , namun terkendala modal untuk perluasan usaha.
Menyangkut pengembangan dan keterbukaan pasar yang semakin lebar, Tarmizi sepakat home industri kecap dan industri lainnya di Aceh yang sudah berjalan perlu didukung pemerintah, terutama sekali untuk pengembangan alat produksi seperti mesin dan lainnya, sehingga mereka bisa memproduksi kecap lebih banyak.
Menurut pemilik Kecap Singa Aceh, Ruslan Kasem, produksinya rata-rata hanya 200 lusin/hari dan dipasarkan hingga sampai ke Sabang (Pulau Weh).
Beberapa hari yang lalu, kecap Singa Aceh juga mulai diperkenalkan di Medan, Sumatra Utara, mudahan bisa berkembang, dan tentunya pemerintah diminta mendukung kemajuan industri kecil, tutur Ruslan Kasem
Tarmizi yang berkesempatan berkunjung ke industri kecap tersebut mengharapkan pemerintah melalui dinas terkait seperti Disperindagkop untuk mengupdate informasi seluruh industri di Aceh, sekaligus membina dan membantu termasuk mempromosi hasil produknya.
Ruslan menuturkan, usahanya dimulai sejak tahun 1999 dengan bermodalkan semangat dan tentu dengan modal seadanya. "Alhamdulillah sekarang Kecap Singa Aceh sudah dipasarkan hampir seluruh pelosok Aceh," ujar mantan karyawan Pabrik Kertas Kraft Aceh (KKA).
Produksi kecap juga telah membuka peluang pekerjaan buat para pemuda dan pemudi di Kabupaten Bireuen yang kini mencapai 25 orang.
Tarmizi mengatakan, usaha kecap itu juga telah memanfaatkan hasil pertanian lokal seperti kacang kedelai, garam dan gula, tidak hanya itu ampas atau limbah kecap tersebut ikut bisa digunakan untuk pakan ternak.
Editor : Salahuddin Wahid
COPYRIGHT © ANTARA 2026