Tapaktuan, 27/8 (Antaraaceh) - Anggota DPRK Aceh Selatan, Azmir SH, mengatakan berdasarkan hasil pantauan pihaknya dilapangan, harga penjualan BBM jenis solar dan premium di tingkat pengencer, saat ini jauh melambung di atas harga normal.
Azmir di Tapaktuan Rabu menyebutkan, harga solar yang dijual enceran saat ini tembus Rp10 ribu/liter jauh diatas harga normal Rp5.500/liter, sedangkan premium Rp9 ribu/liter juga jauh di atas harga normal Rp6.500/liter.
“Harga BBM jenis solar dan premium yang dijual enceran di kios-kios tembus Rp10 ribu, atau jauh di atas harga normal. Sayangnya lagi, meskipun harga mahal mencekik leher masyarakat, namun keberadaannyapun sangat sulit didapatkann karena saat ini sedang terjadi kelangkaan BBM,” kata Azmir.
Menurut Ketua Partai PKPB Aceh Selatan ini, penyebab mahalnya harga BBM jenis solar saat ini, karena keberadaannya tergolong langka di pasaran.
“Pasca keluarnya kebijakan Pemerintah mengurangi pasokan kuota BBM ke daerah-daerah, keberadaan solar paling langka di Aceh Selatan, sebab kebutuhan pemakaiannya cukup banyak yakni selain dipakai oleh kendaraan umum, solar juga sangat dibutuhkan oleh nelayan dan petani serta kontraktor yang sedang mengerjakan proyek,” sebutnya.
Sebenarnya, kata Azmir, karena dihadapkan dengan kebutuhan mendesak saat ini, masyarakat siap membeli BBM jenis solar dan premium dengan harga tinggi, asalkan keberadaannya cukup tersedia.
“Namun sayangnya, niat masyarakat ingin membeli BBM dengan harga mahalpun tidak bisa karena keberadaannya saat ini langka, sehingga kondisi tersebut telah mengakibatkan aktivitas masyarakat terganggu,” sesalnya.
Karena itu, Azmir meminta kepada Pemerintah Pusat melalui PT. Pertamina (Persero) segera mengambil kebijakan atau membuat program untuk mendirikan stasiun pengisian bahan bakar non – subsidi di daerah-daerah, agar memudahkan masyarakat untuk mendapatkan BBM.
“Saya harap usulan tersebut dapat dipertimbangkan dan ditindaklanjuti oleh Pemerintah Pusat, agar memudahkan masyarakat untuk mendapatkan BBM, yakni bagi masyarakat umum yang ingin mendapatkan BBM bersubsidi silahkan ke SPBU dan bagi masyarakat yang ingin menggunakan BBM untuk industri atau keperluan bisnis lainnya silahkan ke stasiun pengisian bahan bakar non-subsidi, sehingga ada pilihan yang jelas bagi masyarakat,” paparnya.
Sementara itu, pengelola SPBU Tapaktuan, Erza Zuhri, yang dikonfirmasi secara terpisah mengatakan, penyebab terjadinya kelangkaan BBM saat ini, akibat adanya kebijakan Pemerintah Pusat melalui Pertamina melakukan pengurangan pasokan ke masing-masing SPBU.
“Kondisi itu memang sudah berlaku secara Nasional bukan di Aceh Selatan saja, dimana saat ini hampir Seluruh Indonesia mengalami persoalan kelangkaan BBM tersebut,” ujarnya.
Karena itu, kata Erza, terkait terjadinya kelangkaan BBM di Kabupaten Aceh Selatan sejak sebulan terakhir, tidak bisa terelakkan lagi dan pihaknya pun mengaku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengatasi persoalan tersebut.
Menurutnya, letak kesalahan sehingga timbulnya persoalan tersebut, sebenarnya berada pada pihak Pemerintah yang telah mengurangi pasokan kuota BBM ke SPBU seluruh Indonesia.
“Jika pihak Pemerintah tidak sanggup lagi menanggung beban anggaran dalam APBN Tahun 2014 untuk mensubsidi harga BBM, kenapa tidak mengambil kebijakan menaikkan harga BBM, bukan justru mengurangi pasokan kuota,” protesnya.
Soalnya, sambung Erza Zuhri, imbas dari kebijakan pengurangan kuota tersebut sangat merugikan dan menyengsarakan rakyat.
“Kondisi saat ini, yang kita sayangkan adalah nasib masyarakat lapisan bawah seperti Nelayan yang tidak bisa lagi bekerja mencari ikan di laut, demikian juga sopir angkutan umum tidak bisa lagi mengangkut penumpang dan juga Petani tidak bisa lagi mengoperasikan Hand Traktornya untuk membajak sawah serta juga mengganggu aktivitas kalangan masyarakat lainnya,” ungkapnya.
Karena itu, kata Erza, pihaknya atas nama salah seorang pengelola SPBU di Aceh Selatan meminta kepada Pemerintah Pusat melalui pihak Pertamina agar mengevaluasi kembali terkait kebijakannya yang sangat meresahkan masyarakat tersebut.


Editor : Salahuddin Wahid

COPYRIGHT © ANTARA 2026